Membumikan Tren Wisata Syariah
Oleh: Zikra Delvira

BAB I WISATA UMUM DAN SYARIAH
Plus minus wisata
Wisata atau travelling kini menjadi semacam gaya hidup bagi sebagian besar orang. Lihat saja di TV, terutama pada akhir pekan, banyaknya program acara yang menayangkan seputar wisata, baik itu yang berbau petualangan, jalan-jalan keluar negeri, perjalanan mengunjungi mesjid-mesjid (biasanya terdapat pada Bulan Ramadhan), dan lain sebagainya. Ditambah dengan semakin banyaknya aplikasi yang memudahkan dan agen perjalanan, dan munculnya tiket pesawat berharga  murah. Di Indonesia, wisata yang hanya dulu dijadikan sebagai pelepas penat dan untuk merelaksasi pikiran, kini telah dijadikan hobi atau rutinitas bagi sebagian orang.

Berwisata memang memiliki banyak manfaat. Selain untuk merelaksasi pikiran dan melepaskan penat dari rutinitas keseharian, juga menjadikan terbukanya wawasan dan cakrawala karena melihat banyak peristiwa di tempat lain dan dapat bertukar pikiran dengan orang-orang yang ditemui di perjalanan, tentunya juga dapat menambah teman ataupun mempererat silaturahmi. Wisata juga dijadikan profesi oleh beberapa orang, sebut saja Gemala Hanafiah yang kemudian menjadi host di acara travelling, selain dapat memenuhi hobi, mendapat penghasilan pula. Selain itu dengan berwisata, kita daat mencicipi kuliner-kuliner yang tak pernah dilihat sebelumnya, melihat festival-festival di negeri-negeri asing. Dengan wisata, apalagi dengan jumlah dana yang tidak memadai ataupun ke tempat-tempat yang menantang seperti gunung, juga dapat membuat seseorang lebih terasah kreatifitasnya dan lebih tahan banting, keberanian juga dapat diuji dan dilatih.

Bagi banyak negara, terutama negara-negara berkembang, Wisata merupakan salah satu bidang yang menjadi penambah devisa bagi negara. Termasuk Indonesia. Namun di satu sisi, industri wisata masih menyisakan sentimen-sentimen negatif oleh sebagian orang. Salah seorang kawan pernah berkata pada saya bahwa industri wisata lebih menimbulkan banyak mudarat dibanding manfaat. Salah satunya ialah dengan adanya tuna susila, maupun minuman keras yang sering ditemui di sebagian lokasi wisata, terutama lokasi yang sering dikunjungi oleh wisatawan asing. Di salah satu daerah di Jawa Barat, bahkan terdapat wisata nikah mutah.

Ada benarnya apa yang dikatakan oleh pihak yang mempunyai sentimen negatif tersebut. Efek-efek negatif dari berkembangnya wisata di sebagian daerah tak bisa dihindarkan. Salah satu cara untuk mengatasi citra buruk tersebut ialah wisata syariah. Wisata syariah setidaknya dapat didefenisikan sebagai wisata yang sesuai dengan hukum syariat Islam yang berlaku.

Wisata Menurut Kacamata Islam
Di Alquran terdapat ayat mengenai dan mengatur tentang perjalanan. Yang tercantum dalam Surat Al-Ankabut: 20, dengan terjemahan:
“Katakanlah: ‘Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaanya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Di surat lainnya juga terdapat ayat mengenai perjalanan. “Katakanlah: ‘Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (Al-An’am:11).
Islam mendorong umat manusia untuk melakukan perjalanan atau wisata, antara lain perjalanan dengan tujuan untuk berhaji, umroh, berhijrah, perjalanan untuk mencari rezeki, ataupun berpesiar untuk melihat kekuasaan Tuhan. Zamani-Farahani dan Henderson (2009) berpendapat bahwa di sisi lain, perjalanan secara luas menjadi simbol elemen kesabaran dan kegigihan. Ahli yang lain berpendapat bahwa tujuan dari perjalanan ialah untuk merealisasikan kelemahan manusia dan mengapresiasi kebesaran dan keesaan Allah.

Munculnya Tren Wisata Syariah
Pada pertemuan di tahun 2000, Organisasi Konferensi Islam (OKI) mengenalkan wisata syariah dan memberikan dorongan pada negara-negara anggotanya agar memulai wisata syariah. Sejak saat itu sebagian negara mulai mengembangkan industri wisata ini di negaranya masing.

Sebelumnya, negara yang memegang prinsip wisata syariah ialah Saudi Arabia, yang melayani para peziarah melakukan haji maupun umroh. Sejak konferensi yang dilakukan OKI tersebut, hal ini kemudian menyebar di negara berpenduduk Muslim lainnya. Malaysia menjadi negara yang paling getol mengenai hal ini. Negara yang mempunyai tradisi Islam ini, menyuguhkan dan mengenalkan hal-hal menarik mengenai tradisi Islam kepada wisatawan. Baik itu berupa wisata ke masjid-masjid, wisata ke bangunan Islam dan lainnya.

Namun wisata syariah tak hanya terbatas pada hal-hal yang berbau religi saja. Jalan-jalan ke alam, wisata belanja, wisata budaya setempat juga terhitung sebagai Wisata syariah, selama konsep yang dipakai sesuai dengan syariat Islam. Antara lain tersedianya fasilitas ibadah, tidak disediakannya bir dan alkohol, tak ada pornografi dan pornoaksi, dipisahkannya tempat antara laki-laki dan perempuan. Hal yang demikian juga merupakan wisata syariah.  

Pada pekembangannya, wisata syariah tidak hanya dikembangkan di negara-negara berpenduduk Muslim saja, namun juga berkembang di negara mayoritas non-Muslim. Negara seperti Australia, Taiwan, Korea, Jepang, serta negara-negara di Eropa, secara rinci melayani segmen Wisata Islam ini. Hal ini dikarenakan banyaknya wisatawan Muslim yang berkunjung ke negara tersebut. Sebagai contoh, Jepang cukup banyak dikunjungi oleh turis dari Indonesia pada tiap tahunnya, dan sebagian besar turis Indonesia tersebut merupakan Muslim. Dari hal tersebut menunjukkan bahwa wisata syariah menjadi ceruk pasar (niche market) yang diminati oleh pengusaha-pengusaha di negara-negara tersebut.

Tak hanya di luar negeri, di Bali yang minoritas Mulsim pun terdapat salah satu unsur dari wisata syariah yaitu hotel berbasis syariah. Konsumernya merupakan turis domestik dan turis Malaysia yang menginginkan suasana yang lebih kondusif dan tertib.

Fenomena mulai dan semakin berkembangnya wisata syariah ini tak terlepas dari semakin banyaknya orang yang menganut Agama Islam. Islam terhitung sebagai agama dengan pertumbuhan jumlah pemeluk yang lebih cepat dibanding agama lainnya. Pada 2010 tercatat populasi Muslim sebanyak 1,5 miliar dan diprediksi tumbuh menjadi 2,2 miliar pada 2020. Tercatat populasi Muslim terbanyak ialah di Asia berjumlah 4.184.149.728 dari total keseluruhan 6.925.824.107. Posisi kedua ditempati Afrika, selanjutnya Eropa, Amerika, dan terakhir Oceania yang memiliki penduduk Muslim sejumlah 35.799.477 (Sumber: Kettani, 2010). Sebagian penduduk Muslim juga mulai banyak yang berada di kelas menengah atas sehingga banyak yang berkesempatan maupun tertarik untuk melakukan wisata.
Dengan meningkatnya minat masyarakat akan wisata syariah, juga semakin mendorong dan menghidukan kembali budaya-budaya Islam di daerah yang bersangkutan.

Menurut ahli, pertimbangan akan ketentuan-ketentuan Islami ketika mengembangkan strategi wisata akan mengurangi pengaruh sociokultura negatif yang sering menyertai Wisata di negara-negara dimana Islam menjadi agama negara atau dimana itu berpengaruh dengan kuat (Carboni & Janati, 2015).

Sesuatu yang berbau syariah kini juga semakin menjadi tren di kalangan Muslim. Makin banyaknya muslimah yang berbusana menutup aurat, produk dan pelayanan semisal keuangan syariah, makanan halal, produk kosmetik, pengobatan Islami, dan Wisata syariah bahkan tak hanya diminayi oleh Muslim, tapi juga digunakan oleh non-Muslim. Beberapa tahun sebelumnya, masyarakat Islam lebih corcern mengenai makanan halal saja. Untuk ke depan, diperkirakan hal-hal yang bernafaskan Islami dan sesuai syariat akan semakin digandrungi.

Selain itu semenjak perisitiwa 9/11 di Amerika Serikat, muncul sentimen-sentimen buruk terhadap Muslim dan Islam di negara-negara di Amerika dan Eropa. Hal ini juga mengakibatkan para turis Muslim mengalihkan tujuan wisatanya ke negara-negara lainya, seperti negara dengan populasi penduduk mayoritas Muslim.  

Kini semakin banyak negara-negara yang membangun industri wisata syariah mereka. Malaysia yang paling getol pun akhirnya menuai hasil dengan menjadi negara destinasi pertama wisata syariah kini. Sementara itu Indonesia berada di posisi ke empat. Meski begitu namun tak menutup kemungkinan Indonesia dapat mengejar ketertinggalannya. Berbagai faktor seperti negara dengan jumlah penuduk Muslim terbanyak di dunia, masih kentalnya nuansa Islami di sejumlah daerah, banyaknya bangunan-bangunan bernafaskan Islami semisal masjid.


Daftar Pustaka
Rahim, N. F., Shafii, Z., & Shahwan, S. (2013). Awareness and Perception of Muslim Consumers on Non-Food Halal Product. Journal of Social and Development Sciences. Vol. 4, No. 10, pp. 478-487.
Samori, Z., Salleh, N. F. M., Khalid, M. M. (2015) Current Trends on Halal Tourism: Cases o Selected Asian Countries. Tourism Management Perspective. TMP-00222; 1-6.
(Jurnal-jurnal lainnya, akan saya tambahkan)


0 Komentar