Kepulan Kopi Mak Datuk
Oleh: Zikra Devira

Aku tahu, Mak Datuk suka sekali kopi. Waktu kecil dulu, sering aku lihat ia menyeduhnya. Disendoknya dua serbuk kopi yang hitam pekat ke dalam gelas besar itu, lalu kemudian ditambah gula merah. Ditunggunya air hingga terjerang di tungku kayu, sambil menghembus rokok daun enau yang dilintingnya. Saat itulah, ia akan bercerita tentang kopi. Entah itu tentang makna yang tersimpan di balik kopi, pengolahan kopi, tempat penggilingan kopi di berbagai daerah yang sempat dikunjunginya ketika muda, jenis-jenis kopi yang pernah disesapnya, ataupun dongeng-dongeng tentang petani dan penikmat kopi.

Hal itu saban kami lakukan hampir tiap hari, dalam kedinginan pagi di kaki Gunung Singgalang. Biasanya saat itu kabut atau awan masih menutupi puncak gunung. Mak Datuk membuat sendiri tempat untuk menjerang air penyeduh kopinya, di halaman sebelah dapur. Mak Datuk tak mau di dapur karena baginya dapur rumah merupakan tempat kekuasaan kaum wanita. Jadilah ia membuat tungku di sebelah dapur itu.

Setelah air mendidih, Mak Datuk akan menyaruk air di dalam panci dengan sendok yang terbuat dari tempurung kelapa yang bergagang kayu panjang. Diseduhnyalah kopi itu, diaduknya perlahan. Aku dapat melihat asap mengepul-ngepul dari gelasnya. Sementara Mak Datuk akan menghisap rokok daun enaunya lamat-lamat sembari menunggu ampas bubuk kopi mengendap.
“Kau tahu Bujang? Kopi ini perlambang kesabaran dan hidup. Meskipun ada hal pahit, namun telan sajalah yang pahit itu. Di ujung kau akan merasakan nikmatnya. Seperti itulah hidup,” ujarnya.
Lalu ia akan menyeruput kopinya perlahan yang beruap-uap. Ia, sering menyuruhku untuk meminum kopi ketika itu. Aku menolak. Saat kanak-kanak aku tak suka yang pahit-pahit. Satu kali aku menyeruput kopi menirukannya, untuk pertama kali. Tapi seteguk saja, lalu aku tak ingin lagi. Ia hanya tertawa karena aku meringis kepahitan.

Pernah suatu kali aku tanyakan padanya, kenapa tak minta buatkan saja kopi pada ibuku atau etek. Sejak andung meninggal, Mak Datuk yang selalu menyeduh kopi untuk dirinya sendiri. Jika dibuatkan ia tak akan mau.
“Kopi ini yang mengingatkan aku ketika aku masih belajar dan hidup di surau dulu bersama kawan-kawanku. Kopi juga yang senantiasa menemaniku di rantau saat aku belum menikah. Sejak aku menikah memang andungmu yang selalu membuatkan kopi untukku. Jadi kini biarlah aku menyeduh kopi untuk diriku sendiri, sebagaimana dahulu,” katanya. Aku hanya mengangguk-angguk.

Kenangan masa kecil yang indah, menemani Mak Datuk menyeduh dan menyesap kopinya dalam dingin pagi yang lindap di perkampungan kami. Sembari mendengar dongeng dan ceritanya, serta menatap Singgalang yang gagah.  Tapi itu dulu, rasanya sudah lama sekali. Sejak usia tujuh tahun, sangat jarang aku duduk menungguinya menyeduh dan meminum kopi. Karena pada usia tujuh tahun, anak lelaki Minang harus tinggal di surau, belajar kemandirian, ilmu pengetahuan dan agama. Termasuk aku.

Semenjak aku hidup di surau, Mak Datuk masih dengan kebiasaannya. Posisiku digantikan oleh anak-anak etekku yang masih kecil-kecil, menemani Mak Datuk menyeduh kopi. Aku tumbuh menjadi dewasa di surau. Saat merasa telah memiliki bekal hidup, akupun memilih meninggalkan kampung di kaki Singgalang itu untuk merantau ke Padang, kota pelabuhan yang ramai. Aku berdagang kain di kota itu. Sejak merantau pulalah, aku mulai menyukai kopi. Aku menyesapi kata-kata Mak Datuk, meski pahit namun kau akan menemukan kenikmatan di ujungnya. Kini kopi menjadi kawanku, seperti Mak Datuk menganggap kopi itu kawannya.

Hingga akhirnya tahun ke tiga aku merantau dan menetap di Padang, telah beristri pula aku. Ada kabar yang menyebutkan Pemerintah Hindia-Belanda melarang pribumi untuk menggunakan kopi sebagai minuman ataupun bahan makanan. Semua kopi akan diambil dan dibeli oleh pemerintah dan pedagang Belanda, dengan harga yang sangat murah. Saat itu aku langsung teringat pada Mak Datuk. Kabar itu memang benar, dan masyarakat tak pernah lagi meminum kopi sejak saat itu. Padahal meminum kopi bukan kegemaran Mak Datuk saja, namun juga kegemaran sebagian besar masyarakat. Sejak saat itu, hilanglah kopi dari warung-warung, dari hidangan di perjamuan-perjamuan, dari rumah-rumah, juga dari pagi seorang lelaki tua.

###

Pada lebaran kali ini, aku pulang kembali. Ada hal-hal yang berubah dari kampungku. Begitupun dengan Mak Datuk, tak lagi kutemukan ia yang pada pagi di sebelah dapur, menjerang air untuk kopi di tungku kayu. Kini di waktu biasanya menyeduh kopi, ia hanya duduk di teras, atau berjalan-jalan di perkampungan. Namun sering aku melihat ia seperti orang yang bingung. Mungkin karena sudah tua, ia masih acap meminta serbuk kopi pada ibuku. Tentu ibuku tak bisa memberikannya.

Sempat aku tanyakan padanya, “Mak Datuk, tak apa tak meminum kopi lagi?”
Ia terdiam, kemudian, “Ah itulah Bujang. Kopi sudah jadi bagian hidupku. Hampir tiap hari aku meminumnya, dan kini hilang saja kawanku itu tiba-tiba. Seperti hilang pula selera makanku.”
Sore ini, Mak Datuk berbicara pada ibuku.
“Ros, kepalaku pening. Mana serbuk kopi? Kau masih punya serbuk kopi yang kau giling itu? Minggu lalu kebun kopimu panen,” kata Mak Datuk. Aku ingat, jika pening Mak Datuk memang akan menyeduh kopi untuk menghilangkan peningnya itu.
“Tak ada Yah. Kopi tak ada lagi, semuanya sudah diambil,” jawab ibuku. Sudah berkali-kali ibuku mengucapkan hal itu padanya sejak rakyat dilarang meminum atau memakan kopi. Jika begitu Mak Datuk tak menyahut lagi.

###
     
Sudah dua minggu aku di kampung, dan belum hendak kembali ke Padang. Entahlah, ada saja yang mengikatku kali ini rasanya. Siang ini aku pergi ke kebun kopi milik ibuku. Kebun itu kecil saja, tak terlalu luas. Jika berada di kampung, maka aku akan menyempatkan membantu saudara-saudaraku berkebun ataupun bersawah. Pagi ini aku ke kebun kopi lagi. Di kampungku, kopi jenis kawa yang banyak tumbuh di kebun-kebun.
Masih terbayang bulir-bulir kopi merah yang minggu lalu kami panen. Ah, kopi di tanah kami. Kopi yang kami tanam, yang kami rawat. Namun kami pula yang tak bisa untuk menikmatinya. Polisi pemerintah yang berkulit putih dan berseragam acap hilir mudik di kebun, apalagi ketika masa panen. Panen kopi hanya menyisakan untuk kami batang dan daun-daunnya. Angin bertiup kencang. Daun-daun pohon kopi bergerak-gerak. Aku terperanjat.

###

Pagi itu aku datang ke rumah ibuku. Kucari-cari Mak Datuk, kutemukan ia di sebelah dapur. Duduk di bangku kecil dekat tungku tempat biasa ia menjerang air untuk kopinya. Hanya termangu-mangu memandangi Singgalang di kejauhan.
“Mak Datuk,” panggilku.
Ia menoleh. “Ada apa Bujang? Mengapa kau ke sini pagi-pagi? Tak ke kebun atau ke sawah?” tanyanya.
“Tidak Mak Datuk, nanti aku akan ke sana. Kini aku ingin menemui Mak Datuk dahulu.” Keningnya berkerut.
“Seduhlah ini Mak,” ujarku sembari menyodorkan sebuah kotak padanya. Ia membukanya, terlihat olehnya potongan daun-daun kering.
“Apa ini?” tanyanya lagi.
“Daun kopi kawa,” jawabku.
Tempo hari, aku memutuskan untuk mengambil daun-daun kopi di kebun ibuku itu. Terpikir saja di benakku, mungkin saja daun itu bisa diolah layaknya biji kopi. Kujemur daun itu di bawah sinar matahari, namun di sore hari hujan mencurah dari langit. Aku kembali mengambil daun kopi ke kebun, kuputuskan untuk memanaskannya di tungku agar cepat kering. Lalu kuremas hingga berbentuk potongan daun, kumasukkan bersama air yang terjerang. Jika dijerang bersama air, mungkin kandungan di daunnya itu makin mudah untuk keluar.
Mak Datuk menatapku, lantas ia terkekeh. “Ada-ada saja kau Bujang.”
“Rasanya mungkin memang tak semirip dari buah kopi yang digiling Mak Datuk, tapi paling tidak kita bisa minum kopi lagi.” Mak Datuk hanya tersenyum mengangguk-angguk mendengarku.
“Aku ambilkan panci dan gelas Mak,“ kataku melangkah ke dapur. Ibuku yang sedang memotong-motong bawang menanyakan padaku untuk apa panci dan gelas.
“Untuk Mak Datuk, Bu.” Lalu aku keluar lagi. Kuambil air, dan kubawa semuanya di hadapan Mak Datuk. “Ini Mak, buatlah. Jeranglah air.”
Mak Datuk lalu menghidupkan tungku, disodok-sodoknya bara dari tempurung kelapa.
“Masukkan saja daun kopi dan gula merah itu ke air yang dijerang Mak,” pungkasku.
Ia mengangguk tersenyum. Biasanya di saat seperti ini ia akan mengeluarkan lintingan rokoknya, namun ia sudah tak merokok lagi kini. Yang ada, ia bercerita lagi tentang kopi padaku, tentang makna di balik kopi. Tentang rasa jenis kopi yang pernah disesapnya. Ditambah dengan keluhannya tentang kebijakan pemerintah Hindia-Belanda yang semena-mena.

Air mendidih, yang tadinya bewarna bening, kini telah menghitam. Ia mengecilkan api. Dengan gugup disaruknya air kopi itu, dituangkannya pada gelas. Diendusnya aroma daun kopi bercampur gula merah.
“Rasanya memang akan sedikit berbeda Mak Datuk,” kataku pelan mengulangi ucapanku sebelumnya.
Ia hanya tersenyum, diseruputnya perlahan air daun kopi yang hitam mengepul beruap-uap. Seruputan yang sudah lama tak kudengar.
Sesaat kemudian, ia tertawa, “Kau tahu Bujang? Kopi itu perlambang kehidupan, pahit di awal namun nikmat di ujungnya,” ujarnya.
Aku tersenyum. Layaknya ketika aku kecil dahulu, Mak Datuk dengan kopinya yang mengepul, serta  cerita dan dongeng-dongengnya di kedinginan pagi perkampungan kami. Bedanya kini, aku ikut menyesap kopi bersamanya.

-19 Agustus 2016, Lantai sejuk
#MyCupOfStory

Keterangan:     Mak Datuk       = Kakek
Etek                  = Bibi
Andung            = Nenek

0 Komentar