Halo Karang
Selamat fajar, dan salam kenal. Ini pertama kalinya kita berbincang.
Aku ingin menceritakan suatu hal padamu, tentang seorang lelaki yang kutemu di suatu hari menjelang senja, beberapa waktu lalu.
Ia berwajah ramah, kebapakan. Menunggui anaknya kala itu. Seorang abdi kerajaan, namun kami bertemu tidak dalam lakon ia sebagai abdi. Kami hanya bertemu dengan aku sebagai aku, dan ia sebagai ayah.
Kau tahu Karang, ia lelaki pencerita.
Kadang ia menceritakan dirinya, kadang ia memotivasi aku setelah bertanya tentang diriku dan setelah aku menyampaikan keinginan-keinginan tentang masa depan. Ujarnya, kejar apapun yang ingin kau kejar saat ini, ketika masih muda ini. Karena nanti ketika tua kau akan menyesali hal-hal yang tidak kau lakukan daripada yang telah kau lakukan.
Ya ya, bahkan aku juga pernah membaca kalimat itu dalam tulisan kawanku.

http://bit.ly/2oiJGij


Ia mengarahkanku, untuk menjadi abdi kerajaan juga, sama sepertinya.
Aku pikir, seseorang dengan jiwa yang bebas tak akan cocok untuk menjadi abdi kerajaan. Karena abdi kerajaan akan tergarisi dengan pakem dan aturan yang banyak.
Aku pernah menonton berita, dua orang abdi kerajaan yang sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan di jam kerja ditangkap oleh hulubalang. Berbarengan dengan pelajar yang bolos sekolah.

Walau memang, di satu sisi dengan menjadi abdi, hidup akan terjamin. Bahkan hingga tua. Bisa dapat beasiswa yang dibiayai kerajaan juga. Lagipula kau akan mengabdi pada kerajaan, pada rakyat.

Tapi ternyata Karang, entah aku naif, atau ternyata aku yang kebetulan bertemu dengan Lelaki Pencerita itu.
Katanya, jika ingin bebas, justru jadilah abdi kerajaan.
Jika ingin keluar ketika jam kerja, makanya berpandailah, tukar seragammu dengan pakaian santai.
Dengan menjadi abdi, kau bisa keluar melihat-lihat kerajaan lain.
Siapa yang akan memarahimu jika kau jadi abdi? Atasanmu? Atasan tidak akan marah selagi pekerjaan kita selesai
Dengan menjadi abdi, kau akan aman dari bayang-bayang dipecat. Paling-paling kau akan dipindah ke bagian lain (jika nanti kau berseberangan dengan atasanmu yang tidak kau dukung saat pemilihan)
Kata Lelaki Pencerita itu, untuk mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, tak apa jika pakai koneksi dan keping emas. Jika nantinya kau lulus, berarti memang itulah yang ditunjukkan Tuhan sebagai jalanmu.

Aku sudah pernah dengar tentang itu dari orang-orang, Karang. Tapi rasanya lebih menohok saat mendengar langsung dari seorang abdi dan ia melakukan pembenaran. Ahahaha,, aku hanya bisa mengerut-ngerutkan kening. Aku tak setuju, namun tak begitu berselera berdebat ketika itu.
Seharusnya kau dengar saat ia bercerita. Kesan yang kutangkap darinya ialah, bahwa yang dicari dari bekerja adalah mendapatkan benefit sebagus mungkin. Yang lain urusan belakangan.
Aku pun tak senaif itu Karang. Tentu saja bekerja juga untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mendapat penghasilan layak dan sebagainya.  Tapi bagiku semata tak hanya itu.  




Kata kawanku, seorang pemuda eksentrik dengan kaca mata bulat dan rambut keriting:
Jika kamu bekerja untuk sekedar uang
Kasihan sekali ya kamu
Kupikir-pikir, benar adanya.
Mungkin orang yang bekerja untuk sekedar uang, hanya mencapai tingkatan teori Maslow yang pertama. Kau ingat teori Maslow? Jika tidak, bisa kau baca kembali di buku, Karang.


Pernah ketika Dhuha, di sembarang waktu. Matahari yang sepenggalah itu berbisik padaku,
Kerja bukan sekedar bekerja
Bukan sekedar untuk cari uang
Tapi bekerja untuk berkarya
Untuk mengabdi
Kata beberapa guru-guruku, bekerja itu juga untuk mengabdi pada Tuhan.




Aku tahu, tipe orang tak semua seperti Lelaki Pencerita itu. Aku tahu masih banyak yang tulus. Yang memang ingin mengabdi. Mungkin abdi di kantor kelurahan rumahku yang ramah itu. Mungkin kawan-kawanku yang sedang menjalani pendidikannya. Mungkin mereka yang baru akan melanjutkan pendidikannya di perguruan abdi. Juga sepupuku yang tak main sikut-sikut untuk bergabung di kantor demang. Dan puluhan ribu lainnya, aku pikir masih banyak yang tulus dan jujur. Termasuk guru-guruku di sekolah dan perguruan. Ah, tabik untuk mereka.


Kupikir ceritaku sudah terlalu panjang. Akan kusudahi. Sebagai penutup, sebenarnya aku takut menceritakan ini padamu. Aku takut terlalu banyak omong. Karena aku tak tahu diriku di masa depan akan seperti apa. Mungkinkah aku berubah, menjadi seseorang yang mirip dengan Lelaki Pencerita yang kutemui tempo waktu. Tapi semoga saja tidak.

Lindap semakin hilang di fajar ini, Karang. Kini, akan kudengarkan ceritamu.

Salam Hangat
Utara



0 Comments