Ini cerpen buatnya udah lama.. Dan udah lama juga ngirimnya.. Kirain nggak bakal terbit, tapi ternyata terbit juga setelah berbulan-bulan... Walaaa


Langit Padang Indah Sekali
Oleh: Zikra Delvira

Aku suka memotret. Dulu ketika SMP aku melihat kawanku, ia hobi memotret dengan menggunakan kamera ponsel. Aku lihat hasilnya, dan memang keren, setidaknya untuk ukuran anak SMP, dan ditambah pula bukan dengan menggunakan kamera canggih seperti yang sering ditenteng-tenteng fotografer profesional. Karena teman SMP itu, aku terinspirasi, dan jadi ingin belajar memotret juga. Tapi saat itu aku belum memiliki gadget seperti yang dimilikinya. Jadilah saat itu hanya bisa kuidam-idamkan seraya sesekali membaca teori fotografi dan melihat-lihat jepretan orang-orang.

Saat di SMA, ayah membelikan ponsel, ada kameranya dan cukup untuk memotret kenangan-kenangan konyol masa SMA. Namun saat itu kamera ponsel yang kugunakan belum bisa menangkap objek-objek dengan begitu bagus ataupun menghasilkan warna tajam. Ya, dan ceritaku kemudian seperti cerita-cerita di buku pelajaran Kewarganegaraan. Aku menabung, kemudian awal kuliah uangnya terkumpul dan akhirnya aku bisa membeli kamera dengan spesifikasi yang lumayan. Sejak itu acap aku memutari perkampungan, pergi ke pusat kota, ataupun ke objek wisata hanya untuk memotret. Apa saja yang menarik bagiku kupotret, meski bagi orang lain itu tak menarik sama sekali. Sekedar daun-daun kering, bayangan air, lelehan lilin. Atau juga bangunan, langit, danau, human interest, dan lainnya. Alam menjadi favoritku. Sungai, langit, bulir-bulir air hujan, serangga yang mengisap nekhtar, aku suka hal semacam itu. Untuk mengasah kemampuan, aku bergabung dengan klub fotografi.

Sore ini aku duduk-duduk santai di teras rumah. Sampai seseorang lewat di depan rumahku.
“Hoi fotografer, apa jepretanmu yang terbaru? Aku ingin lihat,” serunya.
Aku menoleh, Da Tito rupanya. Beberapa bulan lalu aku pernah meminta izin memotretnya, ia tetanggaku yang saat itu sedang mencangkul di halaman rumahnya untuk menanam entah apa, mungkin singkong. Ia ramah, perawakannya sedang. Kerjanya serabutan. Namun lebih sering kulihat hanya berada di rumahnya, kecuali akhir-akhir ini. Katanya ia bekerja di Padang.

 Semenjak kufoto ia, ia menjadi pengagum hasil jepretanku. Sesekali ia bertandang ke kamarku, dan melihat-lihat beberapa foto yang kupajang. Ia menyarankanku untuk mengikuti lomba fotografi.
“Bagus fotomu Ki. Mending kau sertakan lomba, kalau menang kau bisa dapat uang,” sarannya.
“Hehe, sudah pernah kukirim fotoku untuk lomba Da.”
“Bagaimana, kau menang?”
“Ya, ada dua kali fotoku menang.” Aku melirik pada sertifikat yang kupajang di meja belajar sejak seminggu lalu. Ia rupanya mengikuti mataku.
“Rifki Anugrah,” dibacanya namaku di sertifikat itu.
“Hebat sekali kau Ki, sedah menang lomba pula ternyata,” pungkasnya menepuk-nepuk bahuku.
Ia kemudian menyambung, “Kau pernah potret langit Padang? Itu bagus sekali Ki. Apalagi kalau sore, warnanya berubah-ubah. Biru, biru tua, keunguan, merah muda, jingga” ujarnya. Da Tito memang menghabiskan masa kecilnya di ibukota provinsi itu, berjarak lima jam perjalanan dari kotaku.
“Lain kali saat kau ke Padang, potretlah langitnya Ki,” sarannya.

###

Kebetulan, setelah percakapanku dengan Da Tito tempo hari, aku menyempatkan diri mengunjungi salah seorang kawanku ketika SMA yang sedang kuliah di Padang. Sekalian aku ingin berlibur dari aktifitas kuliah selama dua hari di akhir pekan ini. Rencananya sore ini, aku akan ke kawasan pantai untuk berburu foto. Memotret pengunjung, kapal-kapal, laut, dan juga langitnya yang disebut indah oleh Da Tito. Namun Roni kawanku itu malah memaksaku ke Pasar Raya. Katanya ia ingin membeli beberapa barang. Batallah rencanaku ke kawasan pantai. Namun kubawa juga kameraku, di pasar setidaknya aku masih bisa memotret. Mungkin akan banyak foto human interest yang bisa kuhasilkan nanti.

Pasar Raya merupakan pasar terbesar yang ada di Kota Padang. Hampir semua pedagang bisa ditemukan di sini, mulai dari pedagang baju, alat elektronik, kosmetik, buku, rak sepatu, cermin, alat tulis, bunga hias, kain, petai, ikan, buah, cangkir, rempah-rempah, hingga cabe giling. Lengkap. Ya, tentunya karena luas pasar ini yang besar.  Ah, untunglah zona para pedagang itu berbeda. Pedagang alat elektronik dengan pedagang ikan dan cabe giling berbeda zona. Pedagang makanan juga banyak, berjejer di jalan atau berada di antara deretan toko-toko. Rumah makan padang, gerobak pedagang minuman, pangsit, salalauak, gorengan. Tak perlu lagilah aku mengabsen makanan-makanan itu, toh tak akan kubeli juga semuanya. Hmmm... Aku merasa lapar, ditambah pula siang ini aku belum makan.

Sumber: ist

“Da, beli apa Da? Masuk dulu Da... Lihat-lihat,” tawar beberapa pramuniaga toko. Aku memilih berjalan sendiri. Malas rasanya untuk mengekor Roni berputar-putar mencari barangnya.
“Sepuluh ribu tiga, sepuluh ribu tiga...!”
“Dik, mau ke mana Dik?” tanya sopir angkot. Berisik sekali rasanya.

Tak lupa kupotret beberapa momen dan objek yang kuanggap menarik. Meriahnya pasar ini dengan berbagai jenis pedagang, baik yang berseru-seru untuk menarik perhatian pembeli ataupun yang hanya diam dan tenang, pasar ini semakin meriah dengan suara kendaraan yang berlalu lalang. Apalagi oleh suara sang nona-nona cantik. Tampilannya begitu menarik. Sebagian besar si nona-nona itu, dari dalam tubuhnya menghentak suara musik. Pakaiannya ditempeli stiker dengan berbagai tulisan dan gambar. Klakson yang terpasang di bahu kanan mereka, seringkali dibunyikan oleh sopirnya. Apalagi nona-nona yang melaju kemudian berbelok di simpang masjid itu. Di sekitaran simpang itu, gendang telingaku serasa mau pecah karena klakson si nona yang berlomba-lomba dibunyikan oleh sopir. Si nona-nona itu, bisa dikatakan salah satu primadona kota ini. Beberapa stasiun televisi telah pernah menayangkan tentang angkot Kota Padang yang unik. Hmm...

Tinggalkan sajalah dahulu pembahasan mengenai nona-nona itu. Hari semakin senja, dan langit berubah warna jadi lembayung. Ah, tanpa harus mencari view langit luas di pantai, di pasar ini pun aku bisa memotret langit, dengan tambahan suasana pasar di bawahnya. Kupotret langit dengan warna jingga lembayung itu.

Seorang pengemis tiba-tiba menadah tangannya ke arahku. Aku hanya mengangguk dan melambaikan tangan ke arahnya. Ia pun pergi. Kuperhatikan ia, seorang pria dengan umur sekitar 50 tahunan. Namun badannya sedikit bungkuk. Daritadi setidaknya di pasar ini sudah kulihat hampir sepuluh orang pengemis. Baik itu yang berkeliling, maupun yang duduk menunggu seseorang memberikan uang di ember kecil yang sudah disediakan. Sebagian di antaranya menadahkan tangannya langsung padaku seperti yang dilakukan pria tadi. Aku jadi teringat koran yang kubaca. Laporan utamanya membahas tentang pengemis di beberapa kota. Di tabloid itu dijelaskan bahwa pengemis rata-rata bisa mendapatkan uang hingga jutaan dalam sehari. Bahkan tertulis bahwa pengemis ini mempunyai semacam sanggar untuk berkumpul dan melatih diri dalam pekerjaan mereka. Hmm, hebat juga...

Dengan sukses, pengemis itu mengalihkan perhatianku. Mengapa tidak kupotret saja pengemis-pengemis itu? Aku dulu pernah membaca tentang majalah yang mengangkat tema mengenai pengemis, namun objek yang diobservasi ketika itu ialah pengemis di Pulau Jawa. Terdapat kampung pengemis yang rata-rata warganya berprofesi sebagai pengemis. Pengemis yang difabel lebih mudah mendapatkan uang karena orang-orang yang berlalu-lalang lebih iba pada mereka. Namun jangan salah, si pengemis mempunyai beberapa rumah bagus di kampungnya yang kemudian dikontrakkannya. Ah, ya. Aku jadi lagi-lagi ingat. Di warung kampusku pernah kudengar cerita. Tentang kenalan uni penjaga warung, seorang bapak yang berkeliling dengan mengemis. Namun malang, uangnya yang saat itu dibawanya sebanyak 10 juta hilang karena ditinggalkan oleh istrinya yang sedikit mengalami kelainan mental. Hmm, aku saja tak pernah melihat uang sebanyak itu, ha ha ha.

“Permisi Nak...” seorang ibu tua menadahkan tangannya padaku.
Refleks karena iba dengan tampilan si ibu tua, aku memberikan uang di tangannya. Yah, tak banyak memang. Entahlah, meski terkadang agak sinis, jika berjumpa dengan ibu tua aku jadi teringat ibuku di rumah. Ibuku memang belum setua itu, namun hatiku rasanya terenyuh. Ah, aku jadi teringat pula pasar tradisional di kampungku, sejak tahun lalu juga mulai banyak pengemis yang lalu-lalang. Membuatku jadi terheran-heran. Padahal dulu hanya satu hingga tingga orang yang mengemis di sana, itupun mereka jarang tampak.


Sumber: Ist


Aku berjalan, celingukan. Mencari target dan bersiap-siap membidik kameraku. Nah, itu, seorang bapak yang sedang duduk di emperan toko. Kupotret ia diam-diam. Kulirik hasilnya, aku tersenyum puas. Ada lagi pengemis yang lain, kupotret lagi. Kususuri jalanan pasar raya. Suara-suara makin bising. Sesekali kupotret pedagang dan pembeli. Seorang pengemis nampak lagi olehku. Ia memakai tongkat dan kakinya yang dibebat dihinggapi oleh beberapa lalat, tapi dari wajahnya jelas bahwa pengemis itu masih muda. Mungkin sekitar 26 atau 27 tahun. Kupikir di balik bebatan itu ada makanan atau apalah sehingga lalat tertarik untuk ke sana. Ia agak menundukkan wajahnya. Aku mendekat kepadanya, dari jarak yag kupikir aman, karena wajahnya tak terlihat jelas. Ia menadahkan salah satu tangannya. Kupotret ia beberapa kali. Saat kulihat hasilnya di layar kameraku, kuperhatikan wajahnya. Pengemis itu memang masih muda, ada tahi lalat di pelipisnya. Sesaat kemudian tahi lalat itu membuatku tersentak. Aku lalu memperpendek jarak kami.

Aku memanggilnya. Pengemis itu pasti bisa merasakan ada yang memanggil dirinya karena aku memang dekat sekali dengannya. Perlahan dengan keheranan ia angkat wajahnya yang sebelumnya tertunduk. Saat melihatku, air mukanya berubah terkejut, sebentar kemudian berubah panik dengan mulut tergeragap. Da Tito segera menunduk lagi. Ia bergeming dan kemudian dengan buru-buru berjalan meninggalkanku, meski dengan tertatih-tatih mempertahankan tongkatnya. Namun kentara sekali, kakinya tak lagi bertopang pada tongkat. Aku tak mengejarnya. Ia menjauh di antara kerumunan orang-orang. Sementara di cakrawala sebagian awan yang telah berubah warna menjadi ungu bergumpal-gumpal. Di sisi lainnya awan ungu gelap tipis bagai kabut saja. Ah, langit Padang indah sekali...

Padang-Payakumubuh, 2016





0 Comments