Dok. Pribadi


Biodata
Nama : Adha Giva Sakinah
Hobi : Menulis
Cita-cita : Apoteker
Aktivitas kini : Mahasiswi program studi apoteker Universitas Andalas, sedang menjalani praktek kerja profesi apoteker (PKP)
Prestasi:
- Bintang Aktivis Kampus Unand pada wisuda periode Agustus 2017
- Exchange Student ke Ngee Ann Polytechnic Singapore 2017
- Juara 1 Lomba Essay Pharmacy Exhibition NSAID tingkat nasional 2016
- Juara 1 Lomba Pharmacy Counseling Event (PCE) dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Farmasi Wilayah (PIMWIL) regional Sumatera 2 tahun 2015
- Pharmacy Best Consultant Student In Pharmacy Best Student Award (PBSA) Gebyar Farmasi IV 2015
- Juara 1 Lomba Pharmacy Counseling Event (PCE) Tingkat Fakultas Farmasi Unand 2015
- Delegasi Unand Dalam Lomba Pharmacy Counseling Event (PCE) dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Farmasi Indonesia (PIMFI) tingkat nasional di Universitas Padjajaran 2015
- Delegasi Unand dalam kegiatan PHARMANOVA di ITB tahun 2015

Organisasi
- Dewan redaksi UKPM Genta Andalas periode 2016/2017
- Deputy executive director IYOIN LC Padang 2017
- Koordinator liputan di UKPM Genta Andalas 2015/2016
- Manager Program IYOIN LC Padang 2016
- Quality assurance sekretaris klub NSAID Fakultas Farmasi Unand 2015
- Process Control Action Klub NSAID Fakultas Farmasi Unand 2015

Jejaknya
Adha Giva Sakinah, begitu nama gadis asal Payakumbuh ini. Ia merupakan mahasiswi jurusan yang identik dengan hectic, yaitu Jurusan Farmasi. Mahasiswa Farmasi, memang sudah terkenal dengan kuliah dan praktikum yang padat, kewajiban membuat laporan praktikum yang tebal hingga larut malam, menjalani kuliah profesi, menghapal berbagai nama obat-obatan dan lain sebagainya.

Namun meski begitu, Giva – panggilan akrab gadis ini, tetap bisa menjalani perkuliahannya dengan lancar jaya, plus tak ketinggalan dengan berbagai kesibukannya dalam menjalani organisasi, mengikuti perlombaan, dan bahkan exchange ke Singapura.

“Sampai saat ini saya masih merasa luar biasa bisa lulus tepat waktu, 4 tahun program sarjana farmasi dan melanjutkan studi apoteker,” tutur Giva. Baginya, saat lulus SMA beberapa tahun silam, tidak pernah terpikirkan sedikitpun untuk kuliah di Jurusan Farmasi.
Menurut gadis kelahiran Bulan Mei ini, “Kuliah Farmasi harus siap kehilangan lebih banyak waktu untuk hang out, tugas yang menumpuk, laporan praktikum yang kadang bisa dikerjakan sampai pukul 3 pagi, begadang menjelang UTS maupun UAS karena banyak materi yang harus dipelajari.”

Meski awalnya berat dan melelahkan, lama kelamaan ia terbiasa juga. Bahkan ia mengaku banyak hal menyenangkan yang dialaminya saat kuliah, mulai dari kebersamaan bersama teman-teman, kegiatan di organisasi dan hal -hal lainnya yang justru kini ia rindukan.
Meski begitu, perjuangan Giva hingga kini belum selesai. Setelah meraih gelar sarjana farmasi (S. Farm) pada Juli tahun lalu, ia masih harus berjuang selama setahun untuk program profesi dalam rangka meraih gelar apoteker.

“Ketika kuliah S1 Farmasi Unand, sempat saya tidak ingin lanjut keprofesian apoteker karena melihat kakak-kakak tingkat yang hectic dan banyak sekali tugas bahkan ujian apoteker. Ujian ini disebut Ujian Kompetensi Apoteker (UKAI) yang memiliki standar yang lumayan tinggi dan bisa saja tidak lulus,” paparnya panjang lebar.

Namun keraguan Giva akhirnya hilang. “Saya berpikir kalau ditakdirkan lulus ujian apoteker yaa pasti lulus aja. Lagipula lebih banyak yang lulus dibandingkan yang tidak lulus. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak.” Motivasinya makin bertambah saat ia mendapat dorongan dari orang tua.

Menjadi seorang apoteker merupakan profesi idaman gadis ini ke depannya. Meraihnya memerlukan perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit. Selain itu profesi apoteker juga berkolaborasi dengan profesional kesehatan lainnya, seperti dokter, perawat, bidan. Profesi ini juga harus memastikan bahwa pasien akan mendapatkan pengobatan yang rasional. Dengan menjadi apoteker, Giva juga merasa tertantang saat berhadapan langsung dengan masyarakat atau pasien.

Tak hanya di dalam kampus, pada awal 2017 pun, Giva berkesempatan mengikuti program pertukaran pelajar selama satu bulan di Ngee Ann Polytecnic Singapore. Di sana, selain belajar dan mengikuti perkuliahan Farmasi, ia juga berkesempatan mengamati cara belajar yang berbeda dibanding Indonesia.

Giva mengungkapkan banyak pengalaman berharga yang didapatnya, menghadapi culture shock karena Singapura memiliki keragaman budaya yang menyatu dari berbagai negara, ada Melayu, Arab, China, bahkan India. Masing-masing mempunyai logat dan ciri khas berbeda.
“Alhamdulillah, semua biaya ditanggung pihak kampus,” kata alumni SMA 1 Payakumbuh tersebut.

Tidak hanya cemerlang di bidang akademis, namun ia juga aktif di berbagai organisasi. Di awal perkuliahan, ia bergabung dengan klub ilmiah NSAID Fakultas Farmasi Unand. “Klub ini terletak di bawah BEM FF UA yang bergerak dalam kegiatan kefarmasian, action ke lapangan untuk cek kesehatan masyarakat, selain itu kegiatannya ada pelatihan Lomba Patient Counceling dan Olimpiade Farmasi Indonesia, juga ada kegiatan jurnalistiknya,” tutur Giva.

Organisasi kedua yang diikutinya ialah Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Genta Andalas. Sebuah organisasi jurnalistik, bersifat seumur hidup, dengan rasa kekeluargaan yang tinggi. Di sini ia berperan sebagai koordinator liputan, dimana ia punya amanah mengedit tulisan kawan-kawannya hingga larut malam untuk diposting di website ataupun di tabloid.
Lanjut ke organisasi ketiga, organisasi ekstra kampus, IYOIN Local Chapter Padang, non profit organization. Berpusat di Malang denagn cabang tersebar ke seluruh Indonesia. “Kegiatannya seru karena berbasis sosial sekali, mengangkat acara di tempat terpencil dan mengumpulkan dana untuk donasi. Selain itu ada online lecture juga,” ungkap Giva.

Rata-rata organisasi tersebut diikutinya saat ia berada di tingkat dua perkuliahan. Tahun 2015 merupakan tahun dimana ia mencari jati diri dan ingin tahu sebenarnya passion dirinya dimana. Ia mengikuti dua organisasi sekaligus, masih ditambah dengan mengikuti lomba, di luar kegiatan perkulihan dan praktikum yang sudah super sibuk.

Namun pada semester 5 IPK Giva sempat turun. Mulanya ia berpikir hal itu dikarenakan banyaknya kegiatan yang diikutinya. Namun ia kemudian sadar, bahwa manajemen waktunyalah yang belum tepat.

Semester berikutnya, ia menomorsatukan urusan kuliah, tapi tetap menjalankan amanah di organisasi. Manajemen waktu juga diubahnya. Ia mengaku dulu suka mengerjakan tugas di saat mepet-mepet waktu, bahkan begadang sampai Subuh menjadi rutinitasnya. Hal itu membuat badannya tidak fit dan keseharian jadi kurang produktif. “Namun sekarang Insyaallah saya merubah kebiasaan tidur sebelum jam 11 malam dan bangun sebelum subuh untuk mengerjakan tugas. Hidup terasa jadi lebih baik.”

Dengan kesibukan tersebut, meski lelah, ia tetap menjalankan aktivitasnya. Menurutnya, karena mengandalkan beasiswa Bidikimisi dari kuliah S1 hingga apoteker, ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan dari negara yang telah memberi kepercayaan kepada dirinya.
Orang tua dan keluarga juga faktor yang membuatnya bertahan.
“Harapan orang tua untuk menjadi orang yang sukses dan bisa membahagiakan keluarga menjadi motivasi di saat lagi down. Biasanya kalau lagi sedih orangtua suka nelpon dan langsung nanyain keadaan, padahal nggak ngadu. Mungkin telepati, heheh,” pungkasnya sambil tertawa.

0 Komentar