Kita Mulai dari Youtube..

Akhir-akhir ini sepertinya makin banyak konten medsos khususnya Youtube dari publik figur yang isinya tentang gaya hidup mewah. Mulai dari keliling rumah, kejutan hadiah ulang tahun dengan barang mewah, belanja furniture mewah, dan konten lain.

Video itu kemudian trending, ditonton jutaan orang dalam waktu singkat karena ikut muncul di beranda banyak akun pengguna Youtube. Sepertinya pun memang banyak orang yang menggemari konten-konten seperti itu.

Ist. Content Creator


Hal ini membuat content creator termasuk artis yang juga ikut merambah ke dunia per-Youtube-an,  membuat konten serupa, memperlihatkan gaya hidup mereka.
Hal itu salah? Bisa tidak, bisa iya. Tergantung masing-masing orang. Tapi menurut aku, terlalu banyak konten memamerkan hal-hal yang material. Untuk apa?

Medsos Positive vs Medsos Toxic

Pernah nggak sih kamu membandingkan diri dengan orang lain? Mungkin dengan A yang sudah mencapai anu, atau B yang mempunyai ono, atau C yang berada di posisi ini. Apalagi sekarang zaman media sosial sangat gencar dan membuat kita mudah untuk saling berbagi hal-hal dan mengetahui banyak hal tentang orang lain.


Sudah lebih dari 10 tahun yang lalu dikatakan, bahwa media sosial punya dua sisi. Yang pertama yang sangat bermanfaat, seperti dapat menghubungkan kembali dengan teman lama, sebagai sarana berbagi, mendapat info dengan mudah, menggalang dana, juga sarana aspirasi dan memajang karya atau menikmati karya orang lain, atau bahkan juga mendapatkan motivasi dengan melihat apa yang dicapai oleh orang lain .

                          
                                                            Ist. Terinspirasiii

Tapi di satu sisi, media sosial bisa menjadi sangat toxic. Mulai dari kecanduan, adanya kasus penculikan, hingga penyakit hati bernama iri. Dengan penyakit ini, hidup orang lain menjadi nampak lebih indah. Aku, juga pernah merasakan yang namanya iri ini.

Ist. Rumput tetangga


Aku pernah melakukan survey kecil-kecilan di Instagram, dengan pertanyaan: apakah yang kamu rasakan saat mendengar/melihat/membaca kisah inspiratif dari orang lain?

Pertanyaan tersebut juga bisa diartikan sebagai, apa yang kamu rasakan saat melihat pencapaian-pencapaian orang lain? (Tentunya orang-orang banyak yang memposting pencapaiannya di medsos, ya aku juga).  Hasilnya 45% merasa ikut termotivasi, dan 55% merasa menjadi lebih minder.

Karena Terlalu Sering Lihat Medsos

Kamu pernah merasa terlalu sering melihat media sosial? Yang berimbas pada akumulasi sehingga menimbulkan ketiakpuasan pada diri sendiri. Kamu menjadi fokus pada apa yang orang lain punya, intinya selalu memandang bahwa rumput tetangga lebih hijau.

Ist. Hmmm

Aku pernah merasa seperti hal di atas. Hingga akhirnya tersadar dan berpikir: kenapa aku akhir-akhir ini cenderung berpikir terlalu materialistis dan tidak bersyukur? Padahal kan yang penting hidup itu seimbang, ada manfaat untuk orang lain, bisa ibadah, punya iman, bahagia.

Mungkin ada masanya ketika kita termotivasi karena media sosial, atau merasa minder, iri, dan semacamnya. Atau justru konten yang ada di media sosial kita yang menyebabkan orang lain merasa termotivasi atau tidak suka dan minder.

Hingga simpulan yang aku dapat adalah, media sosial adalah bagaimana kita bijak menggunakannya, baik itu sebagai penikmat konten, sekaligus sebagai pembuat konten yang notabene tanggung jawabnya lebih besar.


Dampak

Jadinya, kadang aku berpikir, bukan tentang seberapa banyak yang dipunya atau seberapa hebat seseorang. Tapi seberapa dampak positif yang bisa kita berikan untuk orang lain. Hal ini diibaratkan dengan pohon tinggi namun sedikit daunnya, dengan pohon yang rendah namun daunnya rindang dan meneduhkan.

Sama dengan apa yang disabdakan Nabi Muhammad SAW, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Dan tokoh-tokoh yang namanya masih disebut jauh di kemudian hari bahkah setelah kematiannya, adalah orang-orang yang berdampak untuk orang lain, bukan orang yang hidup hanya untuk dirinya saja.

                                   Ist. Pejuang kemanusiaan Bunda Theresa

Kutipan Tere Liye

Sebagai penutup, terdapat kutipan dari Tere Liye dalam novelnya yang berjudul Pulang yang ingin saya sematkan di tulisan ini. Kutipan yang cukup relate dengan pembahasan di atas. 

Begini bunyi kutipannya:
"Ketahuilah, Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapapun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran.”

Jakarta, 8 Maret 2020

0 Komentar