Banyuwangi, beberapa tahun belakangan nama ini mencuat di panggung pariwisata Indonesia. Bagaimana tidak, api biru atau blue fire yang berada di Gunung Ijen, Banyuwangi menjadi satu dari dua yang ada di dunia ini.

Blue Fire
Doc: Nusa Daily

        Desember lalu aku berkempatan ke sana. Memulai perjalanan dari Surabaya dan menaiki kereta di Stasiun Wonokromo, mengingatkanaku pada letak rumah terkenal di novel roman yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer.

        Salah satu kesenangan dari menaiki kereta adalah, adanya romantisme tentang masa lalu. Lagipula menaiki kereta menjadi sebuah kesenangan tersendiri bagiku, karena nun jauh di kota asal di Pulau Sumatera sana, tak begitu banyak kereta yang wara-wiri.

        Selama di kereta, kota-kota di pedalaman Jawa yang berkelebat di balik jendela. Begitu juga dengan hutan-hutan jati. Rombongan ibu-ibu yang mengedarkan makanan mereka, saling berbagi. Di Probolinggo dua orang asing naik dan duduk tepat di depan aku hingga kami terlibat percakapan seru. Hingga jam sembilan malam aku sampai di stasiun Banyuwangi setelah melalui perjalanan sekitar enam hingga tujuh jam.

        Penat di kereta dilepas sejenak di penginapan, sebelum aku ikut bergabung dengan rombongan tur kecil menembus malam di Banyuwangi menuju kaki Ijen. Di kaki gunung yang megah ini, sekumpulan laki-laki menghidupkan unggun dan berdiang. Sementara aku menggigil dan khawatir kalau-kalau akan mengalami hipotermia nantinya. 

Berdiang
Doc: Pribadi

        Sebagai langkah pencegahan dini, kupesan segelas teh dan sepakat menukarkan uang Rp10.000 dengan sepasang sarung tangan yang dijajakan seorang pria paruh baya. Pendakian dimulai pukul satu dini hari.

        Ternyata baru beberapa langkah, tubuh sudah terasa panas, tak perlu lagi sarung tangan. Malam itu yang mendaki Ijen cukup ramai, termasuk oleh pendaki asing. Aku dibuat surprise saat mendapati trek yang dilalui sudah dibuat menjadi jalan yang mulus seperti jalan desa, tak seperti gunung lain yang treknya jalan setapak, dengan semak, akar pohon.

        Aku menengadahkan kepala. Siluet ranting-ranting pohon mati di atas kepala aku, dan jauh di atasnya, gugusan bintang seperti gula pasir yang diserakkan ke atas roti coklat. Cerlang cemerlang. Di kejauhan, kota yang sedang tertidur juga menembakkan cahaya lampu-lampunya.

        Makin ke atas, makin banyak pria-pria perkasa yang menawarkan otot mereka untuk jasa transportasi. Mereka berdiri di samping lori-lorinya.

        “Mbak, masih jauh ke atas,” ujar mereka.

        Seyogyanya para pendorong lori itu adalah para penambang belerang. Mereka bergantian untuk jadwal sebagai pendorong lori bagi para pendaki. Penghasilan membantu pendaki dengan lori mereka, lebih banyak dibanding mereka naik-turun Ijen selama sehari sambil membawa berkilo-kilo belerang yang diletakkan di keranjang dan dipanggul ke pundak-pundak liat mereka.

Blue fire-nya nggak kejepret
Doc: Pribadi


        Menjelang pukul empat dini hari kami sampai di puncak. Bau belerang sudah mencuat, para pendaki meniti bebatuan curam untuk sampai ke kawah. Ya, di sana, ada blue fire. Dua-duanya yang ada di dunia, selain di Islandia. Saat aku sampai, api itu menari. Memercikkan atom-atomnya.

        Sementara para penambang belerang mengangkuti hasil tambangannya di sekitar pendaki. Dengan keranjang penuh belerang mereka luwes membawa belerang itu dengan jalan yang sigap, sementara sebagian pendaki tampak kehabisan nafas meski tanpa membawa beban apapun.

Asap kawah
Doc: Pribadi


        Aku melewatkan matahari terbit karena terlalu lama berada di kawah. Saat kembali ke puncak, matahari sudah cukup terang. Udara begitu sejuk, hanya sesekali buyar saat bau belerang datang. Perjalanan turun pun tak kalah mengesankan. Langit di Ijen begitu biru. Biru tua dan tanpa awan. 

        Pagi itu aku bisa melihat dengan jelas pohon-pohon dan ranting-ranting tanpa daun, yang terbakar beberapa bulan sebelumnya. Sesekali angin bertiup cukup kencang. Pendorong-pendorong lori yang tadi malam begitu banyak, hanya menyisakan satu dua. Dari jauh tampak gunung entah apa. Entah Bromo, entah Merapi, entah Raung.


Ranting tanpa daun dan langit biru
Doc: Pribadi


        Inilah tentang perjalanan, tentang fisik yang diberi tantangan, tentang merayakan pertemuan dengan orang-orang baru. Juga tentang ketakjuban-ketakjuban menemui hal-hal baru layaknya seorang anak kecil yang takjub dengan pengalamannya yang serba pertama kali dan serba baru. 

        Tentang menemukan inspirasi baru di antara para penambang-penambang yang menyediakan bahu dan kakinya untuk memanggul belerang dan berjalan dari kawah menuju lereng Gunung Ijen. (Zikra Delvira)

 

0 Comments