Anti tesis dari postingan sebelumnya http://www.zikradelvi.com/2021/01/7-hal-inspiring-dari-korea.html . Selain hal yang keren, Korea juga mempunyai hal-hal yang nggak seindah cerita di drama. Wajar jika tiap negara mempunyai masalahnya masing-masing. Bahkan di negara maju sekalipun masih terdapat kemiskinan meskipun angkanya kecil.


Source: CNNIndonesia


Kalau kamu sering nonton vlog atau drama Korea dari berbagai genre dan sering baca literatur mengenai Korsel, mungkin kamu tahu fakta kehidupan di Negeri Ginseng ini nggak seindah drama: 

 1.       Biaya hidup mahal

Jika di Indonesia ada ungkapan: biaya hidup murah, gaya hidup yang mahal. Hal ini kurang sesuai untuk Korea. Selain biaya hidup di sana yang mahal, harga properti di Korea juga sangat tinggi. Hal tersebut tidak diimbangi dengan standar upah yang seimbang. 

Kini di Korea ada tren yang dinamakan shibbal biyong, yaitu para angkatan muda yang bekerja dan menghabiskan uang yang dipunya untuk mendapatkan gaya hidup mewah sesaat, baik itu liburan mewah maupun membeli barang branded. Hal itu menjadi penghiburan bagi mereka karena mereka merasa uang yang mereka kumpulkan sedari muda tidak akan cukup untuk membeli rumah dan menyiapkan dana pensiun.


2.       Rasis

Sama seperti Jepang, orang Korea terbiasa akan masyarakat yang homogen. Mereka tidak terdiri dari banyak suku bangsa seperti halnya di Indonesia, Malaysia, ataupun AS. Selain itu sejarah kelam datangnya ‘orang lain’ alias bangsa Jepang untuk menjajah di awal tahun 40-an juga menjadikan Korsel sangat menjunjung bangsa mereka sendiri.

Meski di medio 1940-an menjadi negara yang baru merdeka (bahkan berangkat dengan kondisi negara yang lebih terpuruk dibanding Indonesia) namun Korea dapat bangkit dan berada lebih jauh di depan dibanding negara-negara Asia lainnya. Hal ini menjadikan Korsel percaya bahwa mereka jauh lebih unggul dibanding masyarakat di negara Asia lainnya.


 3.       Tak ada jaminan bagi pekerja

Di beberapa drama Korea, tokohnya menyebutkan dengan jelas: bahwa karyawan di umur 40 tahun biasanya akan mulai dipecat dari perusahaan. Hal ini membuat tak ada jaminan bagi pekerja yang sudah mengabdikan diri di perusaaan tempatnya bekerja tersebut.

Para pekerja benar-benar dinilai dari kontribusinya terhadap kantornya, berdampak pada berkualitasnya pekerja Korea karena iklim kompetitif mereka. Perusahaan tentunya diuntungkan. Namun dari kacamata pekerja mereka, tak mempunyai jaminan pensiun dan lain sebagainya. Pada akhirnya pekerja hanya menjadi alat atau tools bagi investor, perusahaan, dan pemiliknya (melihat hal ini membuat saya jadi ingat UU Omnibus Law).   


4.       Banyaknya lansia yang terabaikan

(Masih berhubungan dengan tunjangan hari tua atau dana pensiun yang belum terlalu memadai di Korea.)

Seperti warga di Asia Timur lainnya, budaya Korsel erat dengan ajaran Konfusius. Salah satunya berisi ajaran tentang berbakti kepada orangtua. Namun kini akibat sistem yang berlaku dan kondisi sekarang, banyak orangtua yang berusia lansia justru terabaikan.

Sebagian lansia menolak untuk dibelanjai anak-anaknya. Sebagian lagi karena sang anak tidak sanggup membiayai orangtuanya. Hal ini membuat sebagian lansia masih harus berjuang untuk kehidupannya sendiri. Di sudut kota Seoul bahkan akan mudah ditemui lansia yang menjadi tuna susila. Banyak di antara mereka yang kekurangan uang untuk biaya hidup sehari-hari dan biaya berobat.

Selain berdampak pada ekonomi lansia tersebut, fenomena ini menjadi salah satu faktor para anak muda Korea zaman kini tak tertarik untuk menikah atapun punya anak. Mereka lebih memilih bekerja untuk diri mereka dan mencoba untuk menyiapkan dana pensiun. Terlebih lagi para perempuan muda yang tidak ingin mengorbankan kariernya untuk membangun rumah tangga dan mengurus anak. Budaya Korea yang masih sangat patriark, menjadikan peran mengurus anak masih diberikan sepenuhnya kepada perempuan. 

Hal-hal di atas menjadikan angka kelahiran di Korea terus merosot. Pada 2020 turun 10% dibanding tahun sebelumnya dengan hanya 275.800 bayi yang baru lahir. Meski begitu, pemerintah setempat gencar mengeluarkan kebijakan agar populasi rakyat mereka tidak terus-menerus turun.

 

5.       Standar hidup yang terlalu di-framing

Standar hidup  kecantikan dan akademik sangat distandarisasi. Standar kecantikan membuat 40% penduduk Korea memilih melakukan operasi dan mengubah bagian tubuhnya agar sesuai dengan standar yang diinginkan dan diatur oleh masyarakat dan tren. Sementara standar akademik membuat siswa sekolah menengah Korea akan belajar 13 jam dalam sehari.

Begitupun dengan para idol grup. Mereka mesti mengikuti pakem yang berlaku di tengah masyarakat. Entah itu penampilan ataupun karakter yang mereka tampilkan, haruslah sesuai dengan apa yang 'ingin dilihat' oleh orang-orang. 


 6.       Kompetitif

Entah ini menjadi nilai plus atau justru nilai minus. Masyarakat Korea sangat kompetitif. Hal ini membuat mereka jadi lebih bergerak jauh lebih maju seperti yang ditulis di pembuka artikel ini. Namun di satu sisi, rasa kompetitif ini membuat banyak yang sulit untuk mendapatkan rasa puas.

Hal ini bisa digambarkan dari ucapan salah satu pubik figur Korea:  bahwa orang-orang berkompetisi untuk menjadi yang terbaik dan juga berkompetisi untuk dapat mempertahankannya, kesuksesan orang lain menjadi semacam ancaman bagi mereka. Hal ini membuat oran-orang merasakan kebahagiaan dan kecemasan di saat yang bersamaan dengan kehidupannya yang dialami.

 
7.       Tingkat stress dan bunuh diri tinggi

Standar hidup yang begitu diframing dan dituntut oleh masyarakat sedemikian rupa, angka bullying yang besar, dan iklim kompetisi yang sangat tinggi membuat tekanan hidup masyarakat dan kasus bunuh diri menjadi tinggi. Gagal menjadi idol, dibully saat telah menjadi idol terkenal, gagal lulus di universitas yang diinginkan menjadi beberapa alasannya para anak muda untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

***


Sama dengan negara yang lain, Korea juga memiliki kelebihan dan kekurangannya. Meski merupakan salah satu negara maju sekalipun. Mungkin kita bisa mengambil hal-hal inspiratif dari mereka, namun tetap bersyukur untuk bisa hidup di Indonesia. Karena tiap negara mempunyai masalah dan perjuangan mereka masing-masing. 

Diolah dari berbagai sumber.

 

1.      

0 Comments