Di kota dengan multikultur dan multisuku seperti Jakarta, ini pertanyaan yang sering diucapkan. Saya sering ditanya dan juga menanyakan hal tersebut. Hingga salah seorang teman, menanyakan kalimat itu lagi pada saya beberapa bulan lalu. Lalu saya jawab: saya orang Minang.

Dekat Jembatan Cirahong, Ciamis
Dok.Pri

“Tahu nggak, orang-orang di negara X akan kebingungan kalau ditanya seperti itu. Mereka akan bilang: saya orang negara ini. Mereka nggak akan menyebut rinci daerah asalnya,” begitu kata teman saya saat itu sambil menyebutkan satu nama negara tetangga.

“Kalau di Indonesia, pertanyaan itu justru sering ditanyakan. Yang justru akan membuat jarak-jarak di antara kita. Jawaban yang berisi ‘saya orang Aceh, dia orang Jawa, kamu keturunan Tionghoa’. Hal itu yang membuat perbedaan di antara kita. Seharusnya ketika kita ditanyai ‘kamu orang mana?’, cukup kita jawab: Saya orang Indonesia,” ujarnya.

Saya dengarkan pendapatnya, mengikuti anjuran Pasal 28 UUD 1945. Tapi saya tidak sependapat dengan pendapat teman tersebut, meski saya mengapresiasi dan setuju dengan semangat kesatuan yang dia miliki.

Saya suka bertanya: kamu orang mana? Bukan untuk memberikan jeda dan bukan untuk membangun jarak, namun untuk lebih mengenal. Pertanyaan itu ditanyakan, bukan untuk membeda-bedakan melainkan untuk merayakan perbedaan.

Ibukota Jakarta menjadi menarik, salah satunya karena kota ini bagaikan miniatur Indonesia. Banyak orang dari berbagai suku yang ada di sini. Setelah bertanya tentang identitas kesukuan dan daerah asal seseorang, lalu akhirnya akan muncul pertanyaan-pertanyaan: Tempat wisata apa saja di daerahmu? Bagaimana caranya ke sana? Kalau saya ke sana, bisa main ke rumahmu ya sekalian.

Tanpa tanya, justru kadang teman-teman ini yang menceritakannya langsung tanpa diminta. Tentang hal-hal menarik dari tempat mereka. Seringkali dari diri mereka, saya juga menemukan hal menarik yang berbeda dari diri saya. Entah itu budayanya, atau yang paling jelas adalah logat atau cara berbicara.

Di tempat saya bekerja di Jakarta, ada banyak teman sesama karyawan dengan suku berbeda. Batak, Bali, Sunda, Tionghoa, Melayu, Jambi, Banjar, Minang, Jawa, dan Betawi. Sebagian karyawan, logat berbicaranya sudah melebur dan menyesuaikan dengan kota yang sedang ditempati.

Sebagian lagi, justru sebaliknya. Teman saya yang dari Kebumen pernah saya tanyai. “Mas, padahal udah lama di Jakarta, tapi logatnya masih jelas ya,” iseng saya bertanya.

“Ini tuh ciri khaaas,” katanya dengan logat yang kental. Dia dengan bangga mempertahankan logat aslinya, identitasnya.

Terkadang saat mendengar teman dari Sunda berbicara, dapat membuat hati meleleh saking lembut dan santunnya. Atau saat mendengar teman dari Batak yang membuat saya terkadang ingin meniru logat dan cara berbicara mereka.

Umat manusia di Sudirman
Dok.Pri

Berada di lingkungan heterogen, membuat kami saling bertukar cerita tentang kebiasaan di tempat masing-masing.  Atau mengenalkan makanan khas daerah yang dipunya dengan membawakan oleh-oleh untuk dimakan bersama. Pertama kalinya saya memakan getuk, karena dibawa teman dari Salatiga. Saya juga jadi tahu, bahwa cemilan bernama karak kaliang dari Sumatera Barat, bentuk dan rasanya mirip dengan klanting dari Jawa. 

Ketika ada seorang teman sesama karyawan yang memeluk agama Hindu, yang lain jadi bisa bertanya banyak tentang Hindu dan budaya Bali padanya. Kami jadi tahu bahwa di Bali, pemberian nama juga ditentukan sesuai urutan anak keberapa orang tersebut dalam keluarga. Kami jadi taha bahwa umat Hindu juga menjalankan puasa, ada puasa saat Nyepi dan puasa mutih. Saya juga bisa bertanya tentang hal-hal di agama Katolik, seperti baptis dan hal lainnya pada teman yang menganutnya.

Meski berbeda keyakinan, terkadang teman-teman ini yang justru mengingatkan yang Muslim: Kamu mau solat? Solat lah dulu...

Begitu, cara kami, saya dan teman-teman dalam menjaga toleransi: kami merayakan perbedaan. Bukan memandang perbedaan sebagai jeda atau jarak. Namun menjadikannya sebagai identitas diri serta sarana untuk dapat saling mengenal dan tahu berbagai hal. Jadi, kamu orang mana?


Payakumbuh, Februari 2021

0 Comments