“Mending kita dulu tuh dijajah sama Inggris, bukan Belanda.”

Begitu celetukan teman dan beberapa komentar warganet yang sempat saya lihat di sebuah konten pada media sosial. Komentar itu muncul setelah membandingkan keadaan bekas jajahan Inggris seperti Malaysia dan Singapura, vs bekas jajahan Belanda alias kita yang diwarisi perilaku korupsi. Entah semata-mata hanya melihat Singapura yang sudah begitu maju, atau karena citra Inggris yang begitu bagus dan baik di mata orang-orang Indonesia.


Padahal ditarik ke belakang, daerah yang pernah dijajah Inggris memang lebih banyak dibanding negara Eropa lainnya. Hingga kini setidaknya hampir seperempat wilayah dunia pernah ada di wilayah kekuasaan Inggris, baik itu yang sudah merdeka penuh, merdeka namun tetap menjadi bagian persemakmuran, maupun yang masih menjadi jajahan.


Citra Inggris yang bagus ini, membuat saya ingat dengan Jerman. Negara yang ditetapkan sebagai penjahat perang di World War (WW) II karena telah memulai perang dan membunuh 500.000 orang Yahudi. Padahal entah itu negara yang tergabung di poros sekutu (Inggris , Perancis, AS) ataupun poros sentral (Jerman, Jepang) dalam keadaan sama-sama ingin melanggengkan ataupun meluaskan kekuasaan mereka.


Jerman ditasbihkan sebagai penjahat karena kalah perang, begitu juga dengan Jepang. Sementara Inggris, meski sudah menggusur Suku Indian dan Suku Aborigin, namun tak pernah mendapat label sebagai penjahat di buku-buku sejarah karena mereka selalu menang. Karena Inggris salah satu imperium yang sangat berkuasa di zamannya. Seperti kata orang-orang, sejarah ditentukan oleh yang menang dan memegang kuasa. Seperti apa kisah dan bentuk sejarah, tergantung kepada pemegang kuasa yang akan menulisnya.

Sumber: Pinterest


Imperium Inggris mencapai masa jayanya pada 1815-1914 di era Raja George III hingga Raja George V. Pada era tersebut, saking luasnya wilayah kekuasaan Inggris yang terbentang seluas 26juta km2 dengan 400 juta peduduk serta kuatnya militer mereka di lautan,Inggris menganggap dirinya sebagai Pax Brittanica alias polisi dunia (posisi yang kini digantikan oleh Amerika Serikat yang menganggap negaranya sebagai negara yang menjaga perdamaian dunia). Meski sebenarnya Pax Britannica tak ada bedanya dengan semboyan propaganda 3A Jepang pada 1942: Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia,  Nippon Pemimpin Asia.


Kamu sendiri, apa yang ada di pikiranmu ketika mendengar nama Negara Inggris? Maju? Penuh universitas top dunia? Tempat asal klub-klub bola yahud? Negeri asal novel Harry Potter, The Chronicle Narnia, Sherlock Holmes, dan Agatha Christie? Negara asal tokoh terkenal seperti Isaac Newton, John Dalton, John Locke, Rowan Atkinson, Charlie Chaplin, Enid Blyton, Rowling, Ed Sheeran dan bertumpuk nama lainnya? Penemu berbagai barang seperti mesin uap, penisilin, TV, mesin jet turbo, kereta api, dynamo, antiseptic dan alat lainnya? Nah mari sini, lihat sejarah masa lalu Inggris dari sisi yang lain. Setidaknya, ini dia sepak terjang Imperium Inggris yang dirangkum di tulisan ini.

Pak Haji siap? Zidan siap? Ayo kita ke masa lalu….

 

1.      1. Genosida Suku Indian di Amerika

Zaman dulu Bangsa Eropa, baik itu Inggris, Prancis, Spanyol, Portugis dan yang lainnya memang senantiasa melakukan ekspedisi untuk menemukan wilayah dan koloni baru. Salah satunya adalah Amerika. Kehidupan berbagai suku-suku Indian yang mulanya damai, berubah sejak kedatangan bangsa-bangsa tersebut.

Sumber: Idntimes

Untuk dapat menguasai Amerika yang luas dan kaya sumber daya alam, orang Eropa menyebarkan bibit penyakit dengan menggunakan tikus. Di daerah Massachusetts, ada 90% penduduk Indian yang mati karenanya. Bangsa Eropa termasuk Inggris juga mengadakan pembantaian ke berbagai desa suku Indian dan mengerahkan pasukan besar dengan senjata modern dari 1776-1815. 


Genosida atau pembunuhan besar-besaran di Amerika dilakukan pada 100 juta jiwa penduduk Indian. Jumlahnya berkali-kali lipat dari korban pembantaian Yahudi oleh tentara Nazi. Namun bangsa-bangsa yang bertanggung jawab pada Indian tersebut tak pernah dicap sebagai penjahat perang.


Di beberapa karya-karya klasik Amerika Serikat, termasuk di novel anak-anak sekalipun bisa ditemui pandangan rasis terhadap orang Indian. Salah satunya ialah buku Petualangan Tom Sawyer yang ditulis Mark Twain. Dalam novel tersebut dituliskan  bahwa orang Indian adalah orang yang tidak beradab, penjahat, dan seorang bandit.

 

2.      2. Perdagangan Budak

Kemenangan atas suku-suku Indian dan berlimpahnya tanah Amerika yang bisa digarap, membuat Inggris dan bangsa Eropa lainnya membutuhkan tenaga kerja. Orang-orang Afrika menjadi jawaban atas kebutuhan itu. Mulanya tenaga kerja Afrika didapat dari para tawanan perang.

Sumber: TirtoID

Hingga kemudian jutaan orang-orang Afrika diculik dan kemudian dijual menjadi budak-budak di Eropa dan Amerika bagian utara. Keuntungan-keuntungan yang didapatkan dari perdagangan budak, juga menyumbang banyak pada revolusi industri yang terjadi di Inggris. Dari 1640-1807 Inggris menjadi negara nomor satu dalam perdagangan budak.


Edward Colston adalah salah satu pedagang Inggris yang memperoleh kekayaannya karena perdagangan budak, setidaknya ia telah mencapai penjualan 100ribu orang Afrika. Di kotanya sendiri, di Bristol ia dikenal sebagai dermawan yang berjasa membangun kota sehingga dibuatkan monumen patung dirinya pada 1895.

 

Sumber: Fimela.com

Namun, apa kamu masih ingat kejadian Black Lives Matter di 2020 lalu, dimana massa demonstrasi di Inggris merobohkan beberapa patung tokoh terkenal? Nah salah satunya itu dia patung Edward Colston.

 

3.      3. Menyingkirkan Suku Aborigin, penduduk asli yang mendiami Australia

Inggris menghukum para penjahat dan tahanan dengan memindahkan mereka ke wilayah koloni yang baru di luar Inggris, dan ditemukanlah Australia dalam misi tersebut pada 26 Januari 1788.  Mereka membuka wilayah dan memulai kehidupan baru, hingga kemudian mendirikan negara sendiri.


Bangsa Inggris menghembuskan sentimen rasis anti aborigin dengan menimbulkan prasangka-prasangka buruk dan menyisihkan orang Aborigin secara ekonomi dan sosial.  Kini tanggal 26 Januari dimaknai secara ganda, sebagai perayaan ulang tahun negara dan menjadi Hari Nasional Australia. Sekaligus diperingati sebagai hari berduka bagi suku asli Aborigin yang tersingkirkan dari tanahnya sendiri.


Dikutip dari detik.com, pada tahun 2017 telah dirilis peta pembantaian orang-orang Aborigin yang tersebar lebih di 150 titik.

Sumber: Merdeka.com


4.      4. India, Wilayah Kaya yang Dikeruk Habis-Habisan

Taj Mahal, peradaban Sungai Indus dengan kota-kota kuno seperti Mohenjodaro dan Harappa, ataupun Vijayanagara. Setidaknya menjadi beberapa bukti kejayaan bangsa India di masa lalu. Menurut salah satu tokoh India bernama Shashi Tharoor, India pernah menduduki salah satu negara terkaya di dunia.

 

Inggris masuk ke India di 1757, di satu sisi imperium ini dapat mengubah beberapa kebudayaan negatif seperti melarang tradisi bakar janda dan pembunuhan bayi perempuan, mengkritik pernikahan di bawah umur serta mendukung pendidikan yang setara untuk perempuan.

 

Di sisi yang lain, selama 200 tahun pendudukan Inggris, mereka telah mengeruk kekayaan dan tenaga rakyat India. Inggris memaksa penduduk lokal untuk mengurangi bertani sayur dan padi yang hanya bernilai rendah, serta menggantinya dengan menanam bunga poppy (opium/candu) dan nila yang mendatangkan keuntungan besar di pasar ekspor. Saat musim kemarau dan panen gagal, kelaparan melanda banyak wilayah di India. Ada sekitar 12juta-29 juta penduduk India yang mati kelaparan selama periode panjajahan Inggris.

 

Sumber: Tribunnew

Pada 1943 saja, di Bengali setidaknya ada 5 juta jiwa yang mati kelapara karena Perdana Menteri Winston Churcill mengalihkan makanan untuk tentara Inggris .  Di masa panen ataupun gagal panen, Inggris tetap menetapkan pajak tinggi sebesar 50%-60% kepada penduduk. Angka harapan hidup penduduk India hanya mencapai 32 tahun di zaman itu.

 

Inggris juga  memberikan warisan berupa perpecahan di antara penduduk India yang berlangsung hingga kini. Jika di nusantara ada Belanda yang menggunakan politik divide et impera, di wilayah jajahannya Inggris menggunakan nama divide and rule. Strategi adu domba. Karena jika masyarakat India bersatu tentu sulit bagi Inggris untuk mempertahankan pengaruhnya, salah satunya dengan menciptakan pertentangan antara dua agama besar di India: Islam dan Hindu.

 

Sumber: Smartcity Makassar

Hingga kemudian Inggris menarik diri dari sana di tahun 1947, India merdeka. Inggris meninggalkan India sebagai salah satu negara paling kismin di dunia saat itu. Meninggalkan India yang kemudian terpecah menjadi India dan Pakistan yang  diwarnai dengan pertumpahan darah. Hingga Gandhi pun berkata:

Apa yang perlu dirayakan? Aku tak melihat apapun selain sungai darah dimana-mana.

 

Hingga kini, Pakistan dan India masih berseteru. Salah satunya dengan memperebutkan wilayah subur Kashmir yang indah dengan kondisi mayoritas penduduk setempat yang masih pra sejahtera. Tak hanya perseteruan antar negara, perseteruan antar agama pun masih terjadi di wilayah internal India. Seperti pembantaian umat Muslim yang terjadi di tahun 2019 lalu.

 

5.      5. Pencetus Perang Candu (Opium War) di Cina

Perang Candu terdiri dari dua babak, pertama pada 1839-1842, dan babak kedua pada 1856-1860. Kekaisaran Cina mulanya tidak membuka kegiatan ekonomi pada negara manapun di dunia. Walaupun begitu, banyak pedagang Eropa yang ingin berdagang di Cina sehingga dibukalah satu pelabuhan untuk pedagang asing oleh Dinasti Qing, pemerintahan Cina saat itu.

Sumber: Youtube

Inggris ingin menjual komoditi candu yang dihasilkan dari India untuk dijual di pasar Cina. Padahal Dinasti Qing sejak 1726 telah melarang rakyatnya menghisap candu karena efek yang merusak dan melemahkan rakyat. Namun Inggris melihat peluang pendapatan devisa yang besar, yang mana rakyat Cina saat itu bahkan rela menjual barang-barang milik mereka agar dapat menghisap candu. Metode penyelundupan pun dilipih. Namun hal ini diketahui Dinasti Qing dan akhirnya gudang penyimpanan pun digerebek dan 22.291 peti berisi candu dibuang ke laut. Dinasti Qing juga mengusir pihak Inggris dari Cina.

 

Sumber: Wikipedia

Pemerintah Inggris yang tidak terima kemudian menuding hal tersebut sebagai penyitaan properti pribadi. Mereka mengirim kapal perang, dan meletuslah Perang Candu di Cina. Pada 1860 Inggris bergabung dengan Perancis lalu meluncurkan serangan dan menakhlukkan Beijing, serta membakar istana kekaisaran dan menjarahnya. Perang tersebut berakhir dengan perjanjian yang berisi pembayaran ganti rugi perang oleh pihak Cina, dibukanya pelabuhan-pelabuhan di Cina bagi bangsa barat, pelarangan penyebutan bangsa barat sebagai bangsa yang bar-bar, dan perdagangan candu dilegalkan di Cina.


Sambungan ke bagian 2 
http://www.zikradelvi.com/2021/03/10-sepak-terjang-inggris-di-masa-lalu-2.html

10 Comments

  1. Pernah baca sepak terjang Inggris ini dari buku Rihlah Dakwah karya Salim A FIllah. Kalau kita di jajah Inggris, bisa jadi suku-suku asli nusantara hilang tak berbekas ya? atau tersisa seuprit doang. Senasib dengan suku Indian dan Aborigin. Ngeri kali... Baca ini jadi bandingin dengan perlakukan umat Islam ketika memasuki wilayah baru. Tetap meperlakukan masyarakat setempat dengan baik.

    ReplyDelete
  2. Pertama kali yang terlintas tentang Inggris itu adalah Ratu Elizabeth, kerajaan, sepak bola, David Beckham, Harry Potter, dan JK. Rowling, hehehe.

    Cuma setelah membaca ini kok jadi serem, ya. Ternyata Inggris saat menjadi penjajah itu kok, sepertinya lebih kejam dari Belanda. Memang semua pasti punya kesalahan masa lalu, walaupun kesalahan tersebut tidak bisa terhapus. Kita tetap bisa menjadikan pelajaran agar tidak menjadi kesalahan yang sama dan Inggris sudah membuat sisi kelamnya tersebut, dengan image yang berbeda di masa kini.

    ReplyDelete
  3. Ampun, itu beneran suku Aborigin dan Suku Indian sampe skrg jadi minoritas ya. Baca ini jadi gregetan sendiri sama Inggris. Semua kejahatan Inggris benar-benar ditutup dengan citra yang baik. Emang jarang banget ada yang tahu. Lanjut ke part 2 ah. Ini ja di part 1 udah bikin geleng-geleng kepala. Gmn di part 2 nya.

    ReplyDelete
  4. Berarti selalu ada hikmah di balik peristiwa, kita dijajah Belanda, tapi masih disisakan budaya asli Indonesia, bahkan bangunan Belanda pun sampai sekarang masih ada. Ternyata Inggris lebih kejam, baru tempe saya setelah membaca artikel super duper keren ini. Bangsa Eropa berarti bangsa penjajah ulung ya,

    ReplyDelete
  5. Inggris mah yg keinget Megan Markle yg kabur krn konon aura rasis di istana. Kayaknya bener sih ya kalau dikaitkan dng sepak terjang Inggris di seluruh dunia.
    Skrng makin terbuka jd borok²nya Inggris yg dulu² terbuka.
    Kayaknya hrs ditulis ulang nih buku sejarah dunia.
    Btw...bhs Inggris menguasai dunia juga sih...

    ReplyDelete
  6. wah, bener-bener kejam ya Inggris. Di mana-mana merusak daerah. sampai ngeri bacanya. Banyak yang nggak tau pula. Jadi banyak yang menganggap Inggris keren dan hebat.

    ReplyDelete
  7. Saya justru baru tahu cerita ini lho. Gak kebayang apa ceritanya kita juga yang menjajah adalah Inggris, satu yang saya ingat dari sejarah pendudukan Inggris adalah kerja paksa pembuatan jalan dari Anyer ke Panarukan

    ReplyDelete
  8. Brarti sama saja dengan berjaya diatas penderitaaan orang/negara lain ya kan. Saya baru tau nih cerita2 ini. India yg pernah jd negara terkaya di dunia jd terpecah belah

    ReplyDelete
  9. Dulu aku pernah mendengar kalau negara bekas jajahan Inggris akan selalu makmur namun sepertinya tidak juga ya, Buktinya suku asli seperti dihilangkan

    ReplyDelete
  10. ada ngeri ngerinya bacanya,, dulu banyak yang bilang bekas jajahan inggris pasti makmur, tapi nggak selalu jugaaa yaaa,,,,

    ReplyDelete