Halo Utara
Aku tak mendapatkan ceritamu? Kau tak ada ceritakah yang bisa saling kita bagi? 

Ngomong-ngomong, hari ini sehabis buang sampah, angin pagi mengajakku berjalan. Langit masih biru gelap, keunguan. Jalan lengang. Kota lengang. Deru hilang.
Lima ayam berada pada dahan meter keempat hingga lima pohon ceri yang berbuah lebat, hebat sekali kekuatan motivasi. Dedaun flamboyan jatuh kecil-kecil. Sesekali terdengar gemuruh dari kali yang kususuri. Kusempatkan untuk mencelup tangan. Sekedar merasa dingin air dari aliran sungai besar sana.
Bocah laki-laki tak kukenal, lewat dibonceng kereta angin oleh ayahnya. Kulambaikan tanganku yang basah. Ia tersenyum, sumringah, tergelak. Memperlihatkan bahwa gigi susu depannya baru saja tanggal dan semangat membalas  lambaianku. Aku ikut tergelak. Ia masih menatap dengan mata penuh senyum, meninggalkanku di belakang. Jiwa begitu murni. Begitu ramah. Tak bertanya dalam pikirannya, apakah aku mengenal orang itu? Tampaknya baginya, semua adalah kawan. 


Oh ya, sementara itu dengan kawan aku bercakap pada malam lalu. Tentang rasa takut dan mencoba berbagai hal. Kami sampai pada kesimpulan bahwa kami akan lebih menyesal untuk hal-hal yang tak dilakukan, daripada sebuah kegagalan. Kata kawanku, jikapun gagal paling tidak rasa penasaran itu tak ada lagi. Kataku, paling tidak bisa diketahui sampai mana batas kemampuan diri. Syukur jika berhasil mendapatkan pencapaian.
Aku sebenarnya sudah mengetahui hal serupa. Ini juga mirip dengan tulisan kawanmu dan ucapan Lelaki Pencerita yang kau temui.
Namun malam itu aku kembali memaknainya. Semoga nanti akhirnya bisa kuaplikasikan dengan baik.
Pagi, Utara.

Karang

0 Komentar