Angin Sejuk di Siosar
Oleh: Zikra Delvira


Antara memori yang masih terekam, kepulan abu, dan harapan untuk masa depan. Siosar, nama sebuah daerah yang baru muncul beberapa tahun belakangan di kaki Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Dengan rumah-rumah hijau yang berderet dan hutan pinus yang segar, daerah ini menjadi kawasan relokasi pengungsi Sinabung yang dibuka oleh Presiden Jokowi pada 2013.

Saya berkesempatan untuk berkunjung ke Siosar dalam rangkaian acara Green Youth Camp III (GYC III), sebuah kegiatan kepemudaan yang diadakan untuk mengkampanyekan pelestarian lingkungan kepada masyarakat khususnya pemuda. Bersama dengan anggota komunitas Koalisi Pemuda Hijau Indonesia regional Sumatera Utara selaku panitia, peserta GYC III berangkat dari Medan menuju Siosar tepat sehari setelah Hari Hutan Indonesia yang jatuh pada tanggal 13 Mei. 
Foto: Alfi


Kala itu masih pukul 03.30 dini hari, saya dan yang lainnya telah menaiki bus yang akan melaju dari Medan ke Siosar. Butuh waktu berjam-jam untuk sampai ke tempat tujuan. Sempat berhenti sejenak di mesjid Sibolangit untuk salat Subuh, perjalanan dilanjutkan kembali. Jalan berkelok-kelok menuju Brastagi yang dingin. Perlahan dari balik kaca bus yang mengembun akibat suhu AC, semburat jingga matahari mulai tampak. Masih kami sempatkan untuk kembali berhenti pada halaman mesjid di Kabanjahe untuk sarapan, seporsi lontong medan. 

Dari ingatan saya, ketika mulai memasuki Kabanjahe, sepanjang jalan di beberapa titik, nampak makam-makam yang cukup megah. Entah itu di tepi jalan lintas, yang terletak di antara ladang-ladang yang lengang, ataupun di puncak bukit kecil. Dengan arsitektur unik khas Batak. Beberapa makam bahkan berada di sebuah lahan kecil yang ditata sedemikian rupa dengan bunga dan pohon-pohon hias, sehingga menyerupai taman. Sebagian makam lainnya ada yang disemen dan diteduhi kanopi.

Bus sudah jauh dari jalan raya, dan kemudian hanya melalui jalanan kecil beraspal yang melewati kampung-kampung dan ladang. Di sebuah desa menjelang Siosar, nampak segerombolan gadis kecil dengan pakaian indah berjalan bersama-sama sambil menenteng Alkitab. Mereka nampaknya akan menghadiri sekolah minggu di sebuah gereja kecil setelah jalan menanjak, di balik rimbun gerumbulan pinus yang kami lewati sebelumnya.

Menjauh dari desa tersebut, perlahan mulai terlihat Sinabung yang tegak berdiri. Saya kembali mengilas-balik samar-samar tentang erupsi gunung yang sempat menjadi bencana nasional tersebut. Sementara bus berjalan membelah padang ilalang di antara gundukan bukit-bukit, dan kaki langit. Hingga sebuah gapura berwarna oranye dan hitam dengan atap khas Batak Karo di kedua sisinya dengan motif cicak menyambut pagi itu, penanda kami telah memasuki Siosar. Begitu turun dari bus, udara sejuk dan angin yang cukup kencang menyambut kami. Meski sudah sekitar menjelang pukul 10.00 Wib dan matahari sudah cukup terik, namun tetap saja hawa dingin khas pegunungan kental terasa

Foto: Bebet



 Foto: alfi


Di salah satu dari tiga desa yang terdapat di Siosar, tampak istimewa lokasi keberadaan dua mesjid dan dua gereja.  Jika berdiri di titik yang tepat, pengunjung akan dapat melihat komposisi letak satu mesjid dan satu gereja di sisi kanan, dan mesjid serta gereja lainnya di sisi kiri. Tepat di tengah-tengah, Sinabung kelabu yang terkadang mengepulkan asap itu tenang di kejauhan. Bagi saya, hal itu nampak menjadi harmoni saat warga Siosar dengan subsuku Batak Karo hidup berdampingan, baik Muslim maupun Kristiani.

Kami diarahkan untuk mendekati sebuah bangunan besar yang bernama jambor, semacam balairung pertemuan desa. Di sana sudah berkumpul warga dan beberapa organisasi masyarakat yang ikut menghadiri peringatan Hari Hutan Indonesia di Siosar. Selain itu di sekitar daerah tersebut akan ditanam sebanyak 5.000 bibit pohon. Keadaan Siosar yang berada di atas pegunungan membuat angin kencang sering melanda sehingga bibit-bibit itu diharapkan nantinya akan menjadi pohon-pohon yang berfungsi sebagai pemecah angin. 

Para hadirin berbaris dan berjalan ke arah jambor. Matahari terik, angin berkesiut, gong dipukul, dan lagu khas Batak Karo mengalun. Ritme yang perlahan dan bahasa yang tidak dimengerti serta musik asing yang pertama kali didengar sempat membuat saya sedang berada di tempat yang sangat jauh. Dua orang yang memakai jubah hitam dan topeng tradisional bernama tempuk dengan tarian memandu para hadirin berjalan mendekati jambor. Anak-anak Sinabung juga mulai mengiringi dengan menari tarian tradisional. Sebagian menggunakan kemeja putih dan ulos merah cerah, sebagian lainnya menggunakan kain ulos yang berwarna merah keunguan.  

Foto: gyc3

Foto: gyc3




“Mejuah-juah!” komando seseorang yang diikuti oleh lainnya. Mejuah-juah merupakan kalimat penyemangat yang biasa diucapkan subsuku Batak Karo. Artinya kurang lebih menyerupai Horas yang menggambarkan semangat.

Sekaligus pada peringatan Hari Hutan di Siosar tersebut, sebagian pemuda-pemudi desa yang terpilih dilantik menjadi duta lingkungan. Tak hanya menjadi peringatan hari hutan, hadirin yang tiba saat itu juga disuguhi dengan pertunjukan kebudayaan dari masyarakat Siosar. Di jambor, anak-anak Sinabung kembali menarikan tarian tradisonal, dan salah seorang seniman memberikan pertunjukan gambaran kepanikan yang terjadi saat Sinabung meletus dan semangat masyarakat yang dapat bangkit kembali. 

Tak hanya tarian dari anak-anak, bermacam barang antik berusia ratusan tahun juga dipajang. Antara lain tagam yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan daging, dulang setempat yang diberi nama sahang, totem bernama bata hidup yang dulunya difungsikan sebagai penjaga kampung dan diletakkan di perbatasan desa, dan barang-barang lainnya. Pemiliknya dapat membawa dan menyelamatkan barang-barang tersebut dari erupsi.

Foto: Alfi


Selagi anak-anak menari, seorang wanita paruh baya dan seorang pemuda dengan ramah membagikan penganan khas setempat yang terbuat dari tepung yang diberi gula aren.
“Ini apa namanya Bu?” ujar saya padanya.
“Ini cimpatuang , ayo ambil, ambil,” ujar wanita paruh baya berkebaya hijau itu ramah. Saya ingat beberapa waktu lalu di televisi disiarkan, cimpatuang merupakan salah satu penganan khas Batak yang sudah jarang dibuat, bahkan sulit ditemukan di Kota Medan. Cukup beruntung saya berkesempatan untuk mencicipinya. Dan keramahan warga masih belum usai, ketika matahari makin naik dan bersiap tergelincir ke Barat, hadirin kembali disuguhi makan siang. 

Berkat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, masyarakat Sinabung kembali menata hidupnya dan memulai lagi aktivitasnya di kawasan relokasi Siosar. Siosar kini menjadi salah satu daerah wisata, bahkan ada yang menjulukinya ‘Negeri di Atas Awan’. Seperti yang diucapkan Batara Yusuf dari Yayasan Budaya Hijau dalam sambutannya, “Dulu masyarakat Sinabung menjadi tontonan. Kini mereka berhasil menjadikan Siosar sebagai desa wisata dan dapat memberikan tontonan untuk orang lain.” Mereka tak lagi menjadi objek yang ditonton, tapi sudah menjadi subjek. Pada hari itu, kami tak hanya disuguhi pertunjukan kebudayaan, barang-barang antik khas Batak Karo, serta makanan setempat, namun kami juga diperlihatkan dengan keramahan dan semangat masyarakat Sinabung. 

Foto: Bebet



Setelah Zuhur, selepas makan siang dan shalat, bibit-bibit trembesi dan bibit pohon produktif penghasil buah mulai ditanam. Kami yang berkendara dari Medan hanya sempat menanam beberapa batang bibit saja per orang. Selebihnya diselesaikan oleh duta lingkungan yang baru saja dilantik. Diharapkan dalam beberapa bulan lagi, bibit-bibit yang ditanam akan menjadi pohon besar dan akan memecah angin kencang menjadi angin sejuk di Siosar, desa relokasi pengungsi Sinabung. Mejuah-juah...


*Foto didokumentasikan oleh peserta dan panitia GYC III
 

0 Comments