Dok. Pribadi


Biodata
Nama : Tareq Al Bana
Hobi : Membaca, Jalan-jalan dan Menulis
Cita-cita :Menjadi orang alim yang mapan ilmunya dan mapan kehidupannya
Pendidikan
2001: TK Islam Raudhatul Jannah Payakumbuh.
2002: SDN 02 Simpang Benteng Labuh Baru Kota Payakumbuh (sekarang SDN 04 )
2008: MTs PonPes Diniyah Limo Jurai Kab.Agam
2011: MAK Ponpes Diniyah Limo Jurai Kab.Agam
2015: Syekh Zayed Arabic Language Center For Non-Native Speaker, Kairo, Mesir.
2016 : Semester 1 Strata 1 (S1) Islamic Theology Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir

Prestasi
2011: Juara 2 Lomba Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Kecamatan Sungai Pua
2012; Juara 3 Lomba Musabaqah Qiraatal Kutub (MQK) Kab. Agam
2012: Juara 2 Lomba Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Kota Bukitinggi
2013; Juara 1 Lomba Musabaqah Qiaraatal Kutub (MQK) Kab. Agam
2013; Juara 4 Lomba Musabaqah Qiraatal Kutub (MQK) Provinsi Sumatra Barat.
2014: Juara 4 Lomba Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Kota Bukitinggi
2014: Lomba Pidato Bahasa Indonesia Jeffrie Geofany
2014: Juara 1 Lomba Cerpen Ponpes
2015: Rangking 3 besar di SMA

Pengalaman Organisasi
2011: Ketua Kelas 9 Tsanawiyah PonPes Diniyah Limo Jurai.
2012: Ketua 1 Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PD PII) Bukitinggi Agam
2013: Wakil Ketua Osis Ponpes Diniyah Limo Jurai Kab.agam
2013: Direktur Buletin SMART
2013: Founder Komunitas Pelajar Aktif (KOPERATIF) Kab. Agam
2014; Ketua Umum OSIS Ponpes Diniyah Limo Jurai Kab.agam
2014; Ketua Umum Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PD PII) Kab. Agam
2015: Ketua Korps Muballigh OSIS Ponpes Diniyah Limo Jurai.
2015; Staf Pendidikan angkatan mahasiswa Mesir 2015
2015: Penulis dan Redaksi Majalah Fenomena Mesir
2015: Redaktur Buletin Bedug Nahdatul Ulama Mesir (PCINU)
2016; Ketua 1 Koor. Pengkaderan Perwakilan Pelajar Islam Indonesia (PWK PII) Mesir.
2016: Muallim dan Pemandu PWK PII Mesir.
2016: Founder GOWES Kairo (Organisasi Pecinta Sepeda Mahasiswa ASEAN)
2016: Member Klub Pecinta Sejarah Mahasiswa ASEAN (Kupretist) Kairo
2016: Perwakilan Generasi Pesona Indonesia (Gen.PI) Di Mesir
2016: Content Writer di www.MinangTourism.com
2016: Content Writer di www.RadioPPIDunia.org
2016: Content Writer di www.Sudutpayakumbuh.com
2016; Divisi Humas Kesepakatan Mahasiswa Minangkabau (KMM) Mesir
2016: Ketua Islammu (Ikatan Silaturahmi Alumni Pondok Pesantren)
2016: Reporter Radio PPI Dunia.
2016: Announcer Radio PPI Dunia.
2016. Divisi Humas Radio PPI Dunia.
2016: Reporter dan Delegasi Simposium Internasional Perhimpunan Pelajar Indonesia Seluruh Dunia (PPI DUNIA) 2016 di Kairo, Mesir.
2017: Penulis di www.ipminternasional.org
2017: Penulis di www.Kompasiana.com
2017: Content Writer di Hipwee.com
2017: Divisi Media dan Informasi Kesepakatan Mahasiswa Minangkabau (KMM) Mesir.
2017: Founder Organisasi Ikatan Pelajar Minang Internasional (IPMI)
2017: Ketua Umum Ikatan Pelajar Minang Internasional (IPMI) Periode 2017-2019.
2017; Anggota Korps Instruktur Pelajar Islam Indonesia (PII) Republik Arab Mesir

Jejaknya
Tareq Al Bana, begitu nama lengkap pemuda asal Payakumbuh ini. Sejak 2016 ia tercatat sebagai mahasiswa pada universitas tertua di dunia yang terletak di Kairo, yaitu Universitas Al-Azhar.

Kairo dipilihnya sebagai tempat belajar karena menurut alumni MAK Ponpes Diniyah Limo Jurai Kab.Agam ini, Kairo kaya akan keilmuan, budaya, dan sejarah. “Ada ungkapan pujangga yang terkenal: Kiblat solat kita adalah Mekkah, namun kiblat ilmu Islam itu ada di Mesir,” kata pemuda yang akrab disapa Tareq ini.

Motivasi Tareq untuk memilih Mesir juga berkat dukungan ayahnya. “Ayah selalu menasehati bahwa kuliah itu adalah hal yang penting, namun wawasan di luar kuliah itu jauh lebih penting. Seperti pertemanan internasional, pengalaman bertahan hidup di negeri asing, dan wawasan umum lainnya,” ujar anak dari pasangan Syafril Sain dan Linda Nursal ini.
Hal itulah yang kemudian membuat pemuda 21 tahun ini memandang Kairo sebagai tempat yang tepat, karena di sana ia bisa mendapatkan banyak hal selain ilmu di dalam kelas. Saat ini, ia juga belajar sejarah, bahasa, interaksi, dan budaya Mesir di luar perkuliahan. Ia bahkan pernah menjajaki sebagai guide wisata di negara Cleopatra itu.

Jika dilihat rekam jejak Tareq yang selalu menempuh pendidikan di sekolah Islam, juga tak lepas dari dorongan ibunya. Tareq menerangkan, “Ibu saya ingin anaknya paham agama. Bisa bermanfaat untuk orang tua. Bagi ibu saya, anak yang saleh itu adalah aset yang berharga bagi orangtua.”

Di Al-Azhar pun, Tareq memilih mempelajari Teologi Islam. Menurutnya, dengan memilih jurusan tersebut, ia bisa lebih banyak belajar dasar-dasar Ilmu Keislaman. Seperti Tauhid, Al-quran, Tafsir, Hadits, dan lainnya.

“Hal lain yang membuatku semakin yakin memilih jurusan ini karena aku melihat bahwa di kampung halamanku (Payakumbuh) sangat sedikit ustad atau dai yang paham mengenai tafsir. Padahal untuk memahami Alquran, kita butuh baca tafsir dan tidak cukup hanya tahu artinya saja,” papar Tareq.
Dengan kondisi itulah Tareq kemudian bertekad untuk memberi edukasi kepada masyarakat Sumbar tentang ilmu-ilmu dasar Islam seperti tafsir, hadits, dan lainnya. Kelak di masa depan.

Baginya, kesempatan kuliah di Mesir merupakan amanah. Setidaknya, bagi Tareq sudah ada 3 amanah yang diembannya. Pertama, sebagai orang yang memiliki ilmu pengetahuan agama, ia harus menyampaikan ilmunya pada masyarakat. Yang kedua, amanah sebagai anak nagari yang memberikan sebuah keharusan untuk membangun kampung halaman. Yang ketiga amanah sebagai anak, di mana kita harus berbakti dan mengabdi pada orang tua. Kontribusi dalam hal itulah yang kelak akan diberikannya kepada masyarakat.

Tareq menjelaskan bahwa kuliah di Kairo membuatnya tertantang. Karena ilmu yang dipelajari di Al-Azhar dalam satu semester ada belasan cabang keilmuan. Selain itu di kelas mereka juga bersaing dengan orang Arab, dimana IQ mereka begitu tinggi dengan hafalan yang begitu kuat. “Hal itu membuat para pelajar dari negara lain harus memaksa diri untuk menyesuaikan kemampuan dan kualitas kita agar sama dengan orang Arab yang terkenal hebat,” tambahnya.

Meski demikian, ia juga mempunyai mata kuliah favorit, yaitu Filsafat. “Saya suka berpikir, sesuai dengan mata kuliah ini yang cenderung mengajak kita untuk berfikir dan merenung, dan mengajak kita mencari hakikat akan sesuatu ‘mengapa ini ada, mengapa ini terjadi’?”
Layaknya hidup, tentu ada lika-liku yang mesti dihadapi Tareq. Seperti banyaknya jumlah mahasiswa yang belajar dalam satu kelas, mencapai 200-400 orang karena memang mahasiswa Al-Azhar yang begitu banyak.

Musim ekstrem pun menjadi cobaan yang membuatnya kesusahan belajar saat kondisi yang terlalu panas ataupun terlalu dingin. Selain itu dosen yang mengajar sangat cepat, sehingga beberapa buah buku bisa diselesaikan dalam satu bulan saja. Jika lengah sedikit saja bisa tertinggal jauh.
“Saat ujian pun tidak main-main, kita harus belajar belasa buku dan diktat serta menjelaskannya dengan lisan dan tulisan via bahasa Arab hanya dengan wkatu 1,5 jam saja,” terang Tareq panjang lebar.

Namun selama perkuliahan, Tareq juga mendapat inspirasi dari salah seorang dosen favoritnya.
“Beliau Duktur Jamal Afifi, dosen mata kuliah Logika. Seorang dosen yang sangat enerjik, suaranya lantang, bisa didengar oleh 400 orang mahasiswa tanpa menggunakan mik, “ pungkas Tareq.
Meski dengan kondisi penglihatan tidak sempurna, hingga dosennya tersebut agak kesusahan ketika berjalan. Tapi menurut Tareq semangat mengajar profesor tersebut tidak kalah dengan dosen-dosen lain, ditambah umur beliua pun sudah sekitar 65 tahun. “Itulah yang membuat saya takjub dan membuat saya tambah semangat. Dengan keterbatasannya itu beliau tetap semangat, apalagi kita yang sempurna.”

Pun terdapat berbagai hal yang menyenangkan di Kairo. Misalnya para dosen Al-Azhar, minimal harus merupakan seorang profesor. Sehingga mahasiswa langsung belajar dari para profesor pilihan yang diseleksi sangat ketat oleh pihak universitas. Biaya kuliah di Al-Azhar pun gratis bahkan mahasiswa masih diberi beasiwa. Selain itu buku yang tersedia sangat banyak dan dapat dibeli murah sehingga dapat puas membaca.

Tak itu saja, teman-teman yang heterogen karena berasal dari puluhan negara berbeda, banyaknya objek wisata yang cocok sebagai tempat menghilangkan stres, libur yang lama hinga mencapai 5 bulan dalam setahun, banyak tersedia tempat les gratis, hingga jarak yang dekat dengan Eropa sehingga ongkosnya murah menjadi hal-hal menyenagkan yang ditemuinya.

Tak hanya dengan teman-teman dari negara berbeda, Tareq juga menjalin persaudaraan yang erat dengan mahasiswa Minang di sana. Menurutnya ada sekitar 500 mahasiswa Minang di Al-Azhar. Mereka saling berkunjung dan sebagian bahkan mandiri dengan membuka dan mengelola rumah makan.

Tareq sendiri aktif di radio Persatuan Pelajar Indonesia (PPI). Ia bahkan menginisiasi dan menjadi founder organisasi Ikatan Pelajar Minang Internasional yang mencoba menghimpun dan menyatukan pelajar Minang yang ada di luar negeri. Saat libur kuliah dan pulang kampung, mereka melakukan bakti sosial ke panti asuhan dan mengadakan talkshow ke berbagai kota di Sumatera Barat untuk memberikan informasi mengenai kuliah di luar negeri. Tareq berharap, dengan organisasi tersebut, tak hanya menghimpun pelajar Minang. Namun juga dapat memberikan kontribusi untuk untuk nagari.

0 Comments