Dok. Pribadi



Biodata
Nama : Nabhan Aiqani
Hobi : Membaca, futsal, dan menulis
Cita-cita : Akademisi
Aktivitas kini : Bergiat di komunitas literasi “Kerinci Institute”
Quote favorit : Aku berpikir maka aku ada

Riwayat Pendidikan
SDN No. 60/III Pasar Semurup Kerinci 2001-2007
MTsS Nurul Haq Semurup Kerinci 2007-2010
SMAN 2 Kerinci 2010-2013
Hubungan Internasional Universitas Andalas 2013

Riwayat organisasi
UKM Pengenalan Hukum dan Politik Universitas Andalas 2014-sekarang
Komunitas Literasi Unand (Militand) 2016-sekarang
UKMF Socrates FISIP Unand 2016-sekarang
Founder Kerinci Institute 2017-sekarang
Seminar dan Pelatihan yang Diikuti
Seminar Anti Korupsi bersama Transparensi Internasional Indonesia
Pelatihan Aktivis Bersama Proteksi Internasional Indonesia
Pelatihan Agen Perdamaian bersama Peace Generation
Workshop Kepenulisan Bersama Qureta

Jejaknya
“Protes itu seringkali membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Namun untuk itu perlu keberanian. Maka berbahagialah orang-orang yang berani.”
___
Nama lengkapnya Nabhan Aiqani, yang berarti pengertian yang nyata. Namun pemuda ini biasa disapa Aiqan oleh orang-orang di sekitarnya. Ia kini tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional di Universitas Andalas, serta aktif sebagai aktivis dan penulis.

Hingga saat ini, tulisan-tulisannya sudah dimuat di belasan media massa berkaliber lokal dan nasional. Baik itu yang offline seperti Republika, Singgalang, Haluan Sumbar, Padang Ekspres, Analisa Daily, Haluan Riau, Jambi Ekspres, Jambi Independent, serta Seru Jambi. Sementara pada media online, pemikiran dan tulisannya juga tercatat di Qureta, Geotimes, dan Suara Kebebasan.

Minat pemuda ini pada dunia menulis, bermula dari keikutsertaannya di organisasi kampus Pengenalan Hukum dan Politik (PHP). Beberapa kawan dan senior di organisasinya aktif menulis di media. Hal inilah yang mendorong Aiqan untuk mencoba dan ikut terjun ke dunia tulis menulis.
Motivasinya semakin besar dengan sebuah kutipan dari seorang sastrawan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer: ‘Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.’
“Saya juga terinspirasi dari seorang penulis dan wartawan di sebuah media online bernama Rusdi Mathari atau Cak Rusdi. Meski bukan seorang penulis terkenal, namun ia menginspirasi dengan tulisannya yang sederhana dan mengalir, terutama tentang Cak Dlahom, dan cerita-cerita sufistik lainnya,” kata penyuka warna biru ini.

Meski Aiqan juga menulis tulisan satire dan cerpen, namun tulisannya yang dimuat di media pada umumnya membahas isu-isu sosial politik terutama mengenai hubungan internasional, sesuai dengan ilmu yang dipelajarinya di kampus.

Menurut pemuda yang bercita-cita menjadi dosen ini, lika-liku sospol dan soshum kini ibarat benang kusut. Tak jelas mana ujung dan pangkal, siapa yang salah dan benar. Pun bias media juga menambah pelik masalah. Sehingga tidak mengejutkan lagi saat media-media yang ada mempunyai keberpihakan dan sudut pandang yang berbeda 180 derajat mengenai suatu peristiwa ataupun seorang tokoh.
“Pada akhirnya masyarakat terombang-ambing. Fenomena ini sebenarnya merupakan bola panas dari era post-truth, yakni era dimana kebenaran dan kebohongan dapat dipoles tergantung siapa yang memesan,” terangnya panjang lebar.

Baginya, saat menulis sebuah isu, artinya hal itu berkontribusi untuk membangun wacana dan membagikan info tersebut sehingga masyarakat umum tahu.
“Hal ini berkesinambungan dengan buku-buku yang saya baca, dengan menuliskan kembali saya juga ingin menuangkan perspektif saya ke dalam bentuk tulisan.”

Ia memang kerap membaca buku mulai dari buku-buku kaum progresif, buku filsafat, sejarah, buku mengenai kajian agama yang lebih kritis, termasuk buku sastra. Kecintaannya pada sastra pun membuatnya mendirikan komunitas literasi.

Minat yang begitu besar pada bidang ilmu Hubungan Internasional, membuat pemuda ini bercita-cita menjadi seorang dosen atau akademisi.
“Profesi lain pasti cenderung akan membuat kita jauh dari teori-teori dan semua yang dipelajari di perkulihan, hanya sedikit dari apa yang dipelajari bisa diterapkan dalam dunia pekerjaan,” tuturnya. Ditambah dengan menjadi seorang akademisi juga adalah pekerjaan dan tugas yang mulia.

Dengan profesi sebagai dosen, kelak tentunya ia akan selalu bersinggungan dengan teori dan ilmu pengetahuan, sehingga wawasannya akan senantiasa berkembang, dan hal yang telah dipelajarinya selama 4 tahun atau lebih tidak sia-sia. Selain itu, dunia kampus akan membuatnya tetap bisa menyalurkan hasrat untuk berdiskusi dan membentuk forum-forum kajian dengan mahasiswa.

Ya, selain aktif menyampaikan pemikirannya lewat tulisan, Aiqan juga merupakan seorang aktivis. Ia turut serta dengan pergerakan mahasiswa, dan pernah menjadi Ketua dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) PHP.

“Dunia pergerakan itu menarik. Dari diskusinya, bertemu dengan kawan-kawan jaringan, kadang diskusi yang dilakukan topiknya bermacam-macam dan tanpa batas,” ujarnya.
Ia juga menuturkan, ada banyak momen menarik saat sedang melakukan teknis lapangan ketika melakukan aksi. Mulai dari pembahasan bagaimana skenario aksi, siapa koordinator aksi, ortator, negosiator, dokumentasi, dan konsumsi. Meski aksi mereka kerap diawasi, namun mereka tidak takut karena aksi yang dilakukan dilindungi dan masih dalam batasan Undang-Undang.

Momen paling berkesan baginya adalah saat membantu ibu-ibu yang saat itu sempat dilarang berjualan di sekitar kampus, banyak hal-hal lucu terjadi. Akhirnya mereka berhasil mengadvokasi para ibu-ibu tersebut, pihak kampus pun memfasilitasi masing-masing dengan sebuah gerobak kecil untuk berjualan.

Saat ditanya bagaimana pandangan terhadap kawan-kawan sesama mahasiswa kini, menurutnya sebagian besar terlalu acuh dan enggan untuk sedikit membahas persoalan sosial dan politik. Malah ada yang mencibir kawan-kawan yang bergerak. “Ini asumsi pribadi saya karena melihat fakta yang nampak,” tuturnya.

Bagi Aiqan, sikap hedonisme dan individualis boleh jadi merupakan akar persoalan yang menjangkiti mahasiswa. Kebanyakan dari kawan-kawan mahasiswa lebih peduli mengenai style, fashion dan tren terbaru.
“Hal ini bertolak belakang dengan pemuda zaman dahulu di era kemerdekaan. Pertanyannya: siapa peduli dengan apa yang dipakai Soekarno, bagaimana potongan rambut Hatta, atau apa yang dipakai Syahrir,” ujarnya.

Ia menyambung:
“Tapi orang-orang di zaman itu lebih banyak berdiskusi, berbagi pengetahuan serta melakukan perjuangan bersama rakyat. Ini sangat kontras dibanding mahasiswa zaman kini,” kata pengagum dari Soe Hok Gie dan Che Guevara ini.
“Meski apa yang dilakukan belum terlalu maksimal efeknya ke masyarakat. Namun paling tidak saya ikut serta melakukan campaign dan menyosialisasikan ke masyarakat atau mahasiswa bahwa: Ini lho persoalan yang kita hadapi sekarang,” pungkasnya.

0 Comments