Dok. Pribadi


Biodata
Nama : Yesi Chairani Tanjung
Hobi : Berjalan sambil belajar
Cita-cita : Pengusaha
Aktivitas kini:
-Sedang menempuh Pendidikan Magister di Universitas Sumatera Utara
-Kordinator Forum Indonesia Muda Regional Sumatera Utara
-Relawan Lingkar Gunung Sinabung

Riwayat pendidikan
Departemen Ilmu Administrasi Negara Universitas Sumatera Utara
Pasca Sarjana Perencanaan Wilayah dan Pedesaan Universitas Sumatera Utara

Prestasi
-Peraih beasiswa (BUMN) tahun 2014
-Peraih beasiswa Perusahaan Gas Negara (PGN) tahun 2015
-Penerima beasiswa program pasca sarjana kemenpora angkatan 5 Universitas Sumatera Utara tahun 2017
-Founder Rumah Cakrawala Apepebe di Desa Lingkar Sinabung
-Delegasi Green Youth Camp se-Indonesia di Medan
-Delegasi LKMM-TM se-Indonesia di Padang Sumbar
- Delegasi Dreammaker Camp di Aceh
- Delegasi Forum Indonesia Muda di Cibubur Jakarta
- Delegasi Pelatihan Pemimpin Bangsa di Yogyakarta

Organisasi
-Forum Indonesia Muda (FIM) SUMUT
- Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI) SUMUT
- Aliansi Pemuda Peduli Bencana (APEPEBE)
- Fasilitator Relawan PUSKRIS UI (Pusat Krisis Psikologi Univesitas Indonesia) Lingkar Sinabung.
- Sekretarian Bersama (SEKBER) Sinabung

Jejaknya
Yesi, begitu nama paggilan dari gadis yang sedang menempuh pendidikan di Magister USU Jurusan Perencanaan Wilayah dan Pedesaan (PWD) ini. Meski lahir dan besar di Kota Kabanjahe, Sumatera Utara, namun gadis ini asli dari Pariaman. Setiap tahun, ia rutin pulang kampung ke kota yang terkenal akan tabuiknya itu.

Gadis bernama lengkap Yesi Chairani Tanjung ini merupakan founder atau pendiri dari Rumah Cakrawala, sebuah rumah belajar bagi warga dan wadah untuk belajar dan bermain bagi anak-anak yang berada di Desa Perbaji Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Desa Perbaji sendiri merupakan desa yang berada di lingkar Gunung Sinabung, tepatnya dalam radius 4,5 km.
“Rumah Cakrawala ini dibentuk sebagai wadah bagi orang tua dan anak-anak Desa Perbaji yang terkena dampak bencana erupsi Gunung Sinabung,” tuturnya.

Yesi menuturkan, ia terpikirkan untuk mendirikan Rumah Cakrawala bagi warga dan anak-anak Sinabung sudah sejak berkuliah. Awalnya di semester enam, ia mahasiswa yang kuliah pulang saja. Di semester tujuh, Yesi kemudian aktif organisasi dan juga bertekad untuk lulus kuliah di semester itu.

Ia pun mem-flashback apa yang sudah didapat dan dilaluinya dari berbagai kegiatan kepemudaan se-Indonesia di berbagai kota. Mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, hingga Jakarta. Dari hal tersebut ia berpikir apa seharusnya implementasi dari berbagai kegiatan yang sudah diikutinya itu, dan mulai terpikirlah untuk membuat semacam rumah belajar.

Perjuangan dimulai, ia mencari teman-teman yang sevisi dan mulai mengadvokasi desa. Perlu waktu setengah tahun untuk itu, hingga akhirnya ia dan teman-temannya mendapatkan satu rumah yang bisa disewa. Mereka mulai mengupayakan pendonasian buku di kalangan teman-teman serta membuat rak buku sendiri karena terbatasnya finansial. Hingga gadis lulusan S1 USU ini pun sempat menjalani semuanya sendiri karena teman-temannya yang saat itu sedang tidak fokus ke Rumah Cakrawala.

“Udah pernah hampir menyerah karena nggak ada yang bisa bantuin dan finansial juga terbatas. Tapi ada saja hal yang membuat Yesi bangkit hingga kemudian berani memberikan semua uang saku bulanan untuk mengecat rumah cakrawala,” kisahnya. Pasca dicat dan diresmikan, Yesi pun aktif 2 x dalam seminggu ke Rumah Cakrawala. Padahal jarak antara Rumah Cakrawala di dekat Sinabung dengan Kota Medan tempatnya berkuliah cukup jauh. Ia juga melakukan pendekatan kepada masyarakat desa, anak-anak, dan perangkat desa.
Bersama dengan teman-teman di komunitas aliansi pemuda peduli bencana, mereka membuat aksi panggung di jalanan Medan untuk menggalang dana. Macam-macam profesi ditemukan di komunitas tersebut, mulai dari mahasiswa, pekerja NGO, musisi, anak jalanan, hingga aktivis sosial.

Dengan berbagai lika-liku yang dihadapinya, meski kadang terpuruk, gadis ini bisa kembali bangkit.
“Pada saat itu orang tua belum mendukung aktifitasku. Biasanya kalau mau nyerah, aku suka menyendiri dan merenung di suatu tempat di ruang terbuka. Dan aku flashback lagi usaha-usaha apa yang sudah dilakukan hingga tidak terfikir lagi untuk menyerah,” kata penyuka makanan pedas ini.

Selain menjadi founder sebuah komunitas, Yesi juga aktif di organisasi FIM Sumut. Ia dan teman-teman seorganisasinya sedang mengusahakan dibentuknya beberapa rumah belajar dan beberapa kegiatan sosial bersama teman-teman Generasi Cakrawala (sebutan bagi anggota di Rumah Cakrawala) FIM Sumut.

Meski berkecimpung dengan kegiatan sosial yang dilakoninya, Yesi masih senantiasa menjalani hobinya, yaitu travelling atau melakukan perjalanan. Baginya berjalan itu identik dengan belajar. Ia melanglang buana untuk belajar dan untuk membuka cakrawala berfikir dirinya terhadap semua daerah yang dikunjungi.

Seorang kenalannya, seorang pegiat literasi di pesisir Sumatera Utara, bahkan menyebutnya sebagai ‘Independent Woman’. “Dia menyebut aku ‘independent woman’ karena menurutnya aku berani aja jalan kemana-mana sendirian bahkan sampai ke kampung beliau yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya,” ungkap Yesi. Sejauh ini sebutan itu memang cocok baginya, karena menurut Yesi perempuan itu juga harus berani, tangguh dan kuat.

Saat melakukan perjalanan, banyak hal yang dipelajarinya. Mulai dari memahami budaya, karakter dan hal lainnya. Baginya semua orang itu guru dan dimana saja ia bisa belajar, dan dengan melakukan perjalanan itulah salah satu cara belajar yang dipilihnya.

Dalam perjalanan-perjalanan itu, ia pernah belajar menjadi fasilitator, menjadi pendamping desa, belajar membuat hunian sampai belajar pertanian kopi mulai dari budidaya kopi sampai pengolahan biji kopi.

Penyuka warna abu-abu ini pun memiliki tips tersendiri bagi perempuan yang ingin melakukan perjalanan seorang diri.
“Sebelum melakukan perjalana, kembalikan dulu niatnya untuk belajar karena Allah. Iain orang tua juga harus didapatkan karena ridho orang tua adalah ridhonya Allah,” tuturnya. Selain itu, menurutnya jangan lupa sedekah selama perjalanan dan jangan batasi diri untuk belajar karena semua hal perlu untuk dipelajari.

Ia menambahkan, “Cari alternatif kontak teman yang kemungkinan bisa menyelamatkan kita jika kita tersesat dan belajarlah menggunakan map.” Selain itu menurutnya, saat melakukan perjalanan, jangan terlalu bergantung dengan planning karena menurutnya hal itu rentan membuat perjalanan menjadi mengecewakan.
“Lawan rasa takut, tanamkan dalam benak bahwa semua orang itu guru alam raya sekolahku, dan selama berjalan tetap focus lillahi ta'ala,” pungkasnya.

0 Comments