Terdiri dari gabungan dua kata bahasa Kawi, ‘di’ yang berarti tempat dan ‘hyang’ yang berarti dewa, hingga kemudian menjadi ‘dieng’. Dahulu raja dan wangsa yang berkuasa di tanah Jawa didominasi oleh ajaran Hindu, begitupun dengan kepercayaan yang dianut masyarakat Dieng. Mereka percaya bahwa dataran tinggi yang mereka tempati adalah tempat persemayaman dewa-dewi. Meski zaman berubah, penduduk mulai menganut agama Islam, penjajah tiba, dan kini Indonesia sudah hampir tujuh kali ganti presiden, legenda lama bahwa Dieng merupakan tempat persemayaman dewa-dewi masih tersiar sampai sekarang, dengan nama yang mengikutinya.


Candi Arjuna
Doc: Saye


Dieng sendiri terletak di pedalaman Jawa, perlu melewati jalanan mendaki yang berkelok-kelok. Jika menaiki angkutan umum, harus menyambung naik bus yang lain lagi. Baik itu dari terminal bus antar kota di Wonosobo, ataupun dari Stasiun Purwokerto. Dengan udara yang sejuk, budaya dan sejarah yang ditinggalkan pendahulu, alam yang terentang mulai dari gunung hingga telaga, serta masyarakat yang ramah. Tak heran jika banyak tour and travel yang menyediakan paket liburan ke daerah ini.

Sementara itu saya dan gerombolan kawan berjumlah empat orang, berkesempatan mengunjungi Dieng pertama kalinya untuk Prau. Kami menginap dengan hujan yang mengguyur dan merembes ke tepi-tepi tenda. Dengan harapan, esok paginya cuaca cerah dan Sindoro-Sumbing akan terlihat dengan cahaya keemasan yang muncul dari timur. Namun layaknya pepatah Melayu lama: manusia merencanakan, tapi Tuhan jua yang menentukan. Dari pagi hingga menjelang siang, kabut masih melingkup di Prau. Jadilah, kami puas dulu untuk merekam gumpalan tipis berwarna putih, padang rumput dan bunga daisy.

Menjelang siang kami turun gunung. Kami sampai di basecamp Dwarawati di Desa Dieng Kulon, setelah matahari juga turun ke barat. Pemandu kami, Muhfid --dan seorang lagi, sebut saja Iman-- menawarkan homestay untuk saya dan gerombolan bermalam. Lagipula homestay itu letaknya di tepi jalan raya, sehingga memudahkan untuk menumpang bus dalam perjalanan kembali pulang. Kami setuju dan Iman mengantarkan.

Kami melewati pasar di Dieng, kendaraan berbaris menunggu antrian jalan. Banyak pelancong yang sudah memilih untuk pulang siang ini. Sementara ketika memasuki homestay, suasana sepi. Di dalam hanya ada seorang lelaki berjaket kulit, bertopi kupluk sedang berkemul di kain sarung kotak-kotak. Tampaknya memang sedang melewati sore dengan santai, seraya duduk lesehan dan bersandar di tiang bangunan. Sebuah gelas kopi hitam terletak di depannya, sementara empat meter darinya sebuah TV layar datar yang besar menayangkan pertandingan bola. Ia tersenyum ramah. Mempersilahkan kami memilih kamar yang ingin ditempati.

“Silahkan, Mbak. Pilih saja kamarnya,” ujarnya.

Saya mafhum ia pemilik dari homestay tersebut. Namun ia duduk saja, sementara pemandu kami yang sibuk membuka-buka pintu dan memperlihatkan kamar. Sambil memilih kamar, pemandu dan pemilik homestay bercakap-cakap. Saya tak mengerti karena mereka menggunakan bahasa Jawa. Namun tampaknya cukup akrab dan saya menarik kesimpulan bahwa mereka merupakan ayah dan anak.

Selesai memilih kamar, mandi, dan salat, ada waktu yang cukup panjang. Azan Magrib masih jauh, dan penat masih terasa sehabis turun gunung. Jadi saya dan kawan memilih ikut duduk dan menatap televisi layar datar yang besar bersama pemilik homestay.

“Silahkan, kalau mau minum kopi,” tawar Iman.

Tawaran yang bagus. Ditambah udara yang dingin, maka saya bangkit lagi. Menuju pojok tempat membuat kopi. Saya takar-takar gula dan kopi yang dimasukkan, seperti yang diajarkan ayah saya dahulu ketika masih SD. Dan terima kasih pada teknologi sehingga cukup memencet tombol dispenser untuk mendapatkan air panas. Di suhu seperti ini memang pas untuk menyeruput yang hangat-hangat. Kawan saya tak tertarik, hanya ikut mencicip sedikit.

Selebihnya, sore itu dilewatkan mengobrol dengan pemilik homestay yang  bernama --sebut saja--  Yanto dan pemandu kami. Iman bercerita terdapat banyaknya homestay yang ada di Dieng, dan semuanya dikelola langsung oleh masyarakat dan pemilik rumah.

“Dulu ada orang Jepang dan Belanda mau nanam saham di sini, tapi masyarakat nggak mengiainkan,” ujar Iman.

Orang-orang Dieng tetap memiliki apa yang mereka punya, dan menjaganya. Selain itu paling tidak, Dieng tetap dengan kebersahajaanya, dengan pengunjung yang menumpang di rumah-rumah penduduk ataupun di hotel-hotel kecil. Tak ada resor mewah yang membuat jurang pembeda.

Sementara Pak Yanto mengangguk-angguk, kalem. Ia bertanya tentang asal kami. Ia tak hanya pemilik homestay, tapi juga seperti sebagian besar penduduk Dieng lainnya, bertani kentang di lahan subur tersebut. Dieng memang dikenal sebagai penghasil kentang nomor satu di Indonesia. Entah itu di tempat-tempat wisata, ataupun di homestay yang kami tumpangi sebelumnya. Kentang goreng berjejeran dijual penduduk dan disuguhkan pada tamu homestay. Bahkan di homestay milik Pak Yanto ini, ia juga tak lupa menawari kami untuk memasak sendiri kentang hasil kebunnya.

Pak Yanto, seperti sebagian orang yang kami temui selama di Dieng, juga bertanya pada kami:

“Tahu Dieng Culture Festival? Sudah pernah lihat belum, Mbak?”

Saya dan kawan menggeleng, tak pernah ikut acara tersebut. Namun tahu tentang festival pemotongan rambut gimbal.

Ia serta merta dengan semangat memutarkan video acara tersebut untuk kami. Kebetulan televisi layar datarnya tersambung dengan Youtube. Video teaser muncul di hadapan kami. Nampak Candi Arjuna, kerumunan orang-orang, anak-anak dengan rambut unik, panggung malam hari, lampion, penyanyi yang memakai pakaian berlapis-lapis. Dengan rangkaian acara pemotongan rambut gimbal, tarian tradisional, jazz atas awan, pelepasan lampion, minum kopi purwaceng. Dari video teaser itu terlihat keren juga. 

“Siapa yang punya ide untuk mengadakan acara ini?” tanya saya.

Diam saja. Saya menoleh, pemilik homestay menahan-nahan senyumnya. Seperti malu-malu.

“Wah, kalau itu langung saja tanya ke orang bersangkutan langsung,” begitu ujar pemandu kami.

Pak Yanto masih tersenyum kecil, lalu ia mulai bercerita. Tak begitu terbuka, tapi dari kalimatnya tersirat bahwa ia menjadi salah satu orang yang menginisiasi acara ini.  Dengan senyum yang malu-malu, dan caranya bertutur seperti itu, sepertinya pemilik homestay ini orang rendah hati.

Dari sana, obrolan tentang Dieng Culture Festival ini makin mengalir dan saya makin cerewet bertanya-tanya. Pak Yanto bercerita tentang anak yang rambut gimbalnya tumbuh pada usia dua tahun, ditandai dengan demam. Rambut gimbal akan dipotong saat si anak sudah mau rambutnya dipotong, sekaligus itu momen ketika keinginan si anak juga harus dipenuhi. Entah itu ia meminta kambing, sepeda, atau apapun itu. 

“Dulu namanya bukan Dieng Culture Festival. Budaya pemotongan rambut gimbal ini dijadikan daya tarik wisata sejak 2009,” papar Pak Yanto.

Di tahun itu ia tergabung sebagai anggota Kelompok Sadar Wisata (pokdarwis) di sana. Dengan tujuan memberdayakan masyarakat dan pengenalan wisata Dieng, atas saran dan masukan dari tetua-tetua, ia dan teman-temannya mengajukan agar pemotongan rambut gimbal di Dieng dijadikan daya tarik wisata pada dinas terkait. Meski saat mereka mengajukan hal tersebut, banyak yang pro dan kontra.

Sebagian karena pesimis acara tersebut dapat menarik minat wisatawan. Sebagian keberatan karena merasa bahwa pemotongan rambut gimbal masih sarat dengan hal-hal “budaya”. Seperti ritual mengambil air di Candi Dwarawati, memotong rambut, dan melarungkan rambut di Telaga Warna. Termasuk adanya anggapan bahwa anak-anak gimbal merupakan anak suci.

“Sempat pergi ke kantor dinas. Namun tak didukung,” kenang Pak Yanto.

“Akhirnya masyarakat yang tergabung di pokdarwis, tetap mau melanjutkan dan mendukung,” tambahnya.

Hingga di tahun 2013, ia terkejut.

“Nggak tahu kenapa, tiba-tiba di 2013 ada banyak wartawan yang mengekspos.”

Kini pemerintah juga sangat mendukung, bahkan gubernur juga turut hadir dalam acara. Begitupun dengan sponsor. Sejak itu acara ini menjadi salah satu event yang ditandai di kalender pariwisata nasional.

Sejak berganti nama menjadi Dieng Culture Festival sejak 2013, acara ini makin diminati. Panitia yang menamai diri mereka sebagai Dieng Pandawa bisa menghabiskan ribuan tiket pada satu musim.

“Ada 4000 tiket yang habis,” terang Iman.

Persiapan yang dilakukan berbulan-bulan terbayar dengan meningkatnya ekonomi masyarakat dan berdayanya orang-orang di Dieng dan sekitarnya.

Dari sebuah acara yang diinisiasi oleh seorang petani kentang , kemudian menjelma menjadi acara nasional. Jika dirunut, pun banyak acara-acara yang diadakan oleh penduduk lokal di berbagai tempat di Indonesia. Sebagian sudah mempunyai massanya masing-masing, sebagian lagi masih harus menggenjot upaya dan daya kreatifitasnya lagi sehingga acara yang ada didatangi oleh banyak pengunjung, tak hanya lokal, namun juga pengunjung dari berbagai daerah lainnya.

“Kalau mau lihat acara ini jangan datang H-1 acara, Mbak. Datang saja 3 hari sebelumnya, karena jalanan menuju ke sini, jika dekat-dekat hari H sudah macet sekali,” ujar Iman memberi saran.

Tak lama setelah itu, Pak Yanto pamit. Magrib makin dekat dan sepertinya ia hendak ke mesjid. Iman masih duduk dan melanjutkan obrolan dengan kami.
           
         “Tadi kan ada acara pelepasan lampion ya, Mas. Maaf sebelumnya, ya,” ujar saya. Membuat ekspresi wajahnya agak berubah.
“Setelah lampion dilepas, jatuhnya bagaimana?” tanya saya.
Ia paham maksud saya. Lalu segera menjawab.
“Ada divisi kebersihannya yang akan membersihkan lampion-lampion yag jatuh itu. Kami punya 70 relawan di bagian divisi ini. Mereka tak dibayar sama sekali. Hanya difasilitasi penginapan, makan, dan baju panitia. Makanya saya juga terharu mereka mau begitu,” jawabnya, ekspresinya sudah seperti sediakala lagi.

Iman menyambung, “Divisi kebersihan ini memang baru ada di tahun 2018 ini. Makanya di tahun sebelumnya kami minta maaf, karena setelah acara, kondisi memang jadi kotor,” ujarnya sambil tersenyum.

Saya tak tahu mengapa ia meminta maaf pada saya. Tak lama, azan Magrib terdengar.

***

Pagi pukul setengah tujuh. Saya dan gerombolan sudah bersiap dan mengepak barang. Menyandang ransel dan ditambah tas tentengan. Dua orang kawan seperjalanan membawa dua dus masing-masing berisi 5kg kentang sebagai oleh-oleh dari Dieng, hasil kebun Pak Yanto. Kami menyeberang dan menunggu bus ke datang.

“Bagaimana orang Inggris yang datang ke sini mengucapkan Dieng?” tanya teman saya.
“Daieng ya?”
 “Hahaha. Tidak Mbak, mereka mengucapkan seperti kita juga mengucapkan: Dieng,” katanya.
Bus menuju Wonosobo kemudian datang juga. Kami beriringan mengucapkan terima kasih padanya.
“Iya Mbak, Mas. Terima kasih. Maaf kalau pelayanannya nggak terlalu nyaman,” katanya seraya rambut gondrongnya berkibar-kibar.
Kami segerombolan menjadi tak enak hati dan berbondong-bondong balik meminta maaf padanya karena sudah begitu merepotkan, sejak sebelum memulai pendakian ke Prau.
Lepas itu, Iman berpesan: Nanti, datanglah kembali. Jika ingin naik Prau, datang di bulan April, saat kabut tak menutup langit dan sunrise sudah pasti terlihat. Namun jika ingin melihat Dieng Culture Festival, datanglah di bulan Agustus. Saat musim kemarau. (Ketika anak-anak gimbal itu rambutnya dipotong. Ketika suhu menjadi 0o dan daun-daun di Dieng tertutup salju tipis.)

Siap, nanti kami datang lagi, jika Tuhan mengizinkan.

***
Halo, kamu bisa melakukan trip ke Dieng via pesawat (turun di Semarang) ataupun bus (turun di Wonosobo). Dari Wonosobo kamu bisa naik bus kecil semacam bus elf, masih di terminal yang sama juga. Perjalanan satu jam, setelah itu kamu akan sampai ke Dieng...
Untuk estimasi ongkosnya, aku lupa tah... Silahkan hubungi aja nomor temanku, dia guide di sana: Amin 0822-2720-9675


0 Comments