Cuss lanjut di senee...

4. Menerapkan Homeshooling

Setelah menikah, Agus Salim mengatakan pada istrinya bahwa saat mereka punya anak nanti, anak-anak tidak akan disekolahkan. Merekalah sebagai orangtua yang akan mengajarinya. Atau bahasa populernya saat ini disebut home schooling.

Hal tersebut dipandang aneh oleh kerabat dan tetangga, karena masa itu anak yang tak bersekolah formal merupakan hal yang tak wajar. Pilihan itu diambil Agus Salim karena ia tidak suka dengan sistem pendidikan Hindia Belanda yang menurutnya kolonial.


Agus Salim dan Keluarga
Ist.


Ia tak ingin pikiran anak-anaknya dicekoki oleh pemikiran dan kebudayaan penjajah. Baginya pendidikan kala itu lebih mengutamakan kepentingan penjajah dan tidak mendidik jiwa kemandirian. Selain itu, Agus Salim sendiri punya pengalaman hampir menjadi agnostic saat menyerap pelajaran-pelajaran yang diterimanya di sekolah.

Satu-satunya anak Agus Salim yang mengenyam pendidikan formal hanya Ciddiq, putra bungsunya. Hal itu karena saat Ciddiq memasuki usia sekolah, Indonesia sudah merdeka.

Agus Salim dan Zainatun Nahar mengajarkan bahasa Belanda terlebih dahulu pada anak-anak mereka. Kemudian disusul pelajaran menulis, membaca, berhitung. Pelajaran disampaikan dengan memberitahu, sambil bercerita, atau sambil menyanyikan sajak-sajak pujangga dunia.

Baju Gunting Cino dan Kartu Remi
Ist.


Tak ada jam pelajaran yang mengikat seperti di sekolah formal. Mereka belajar bagaikan bermain dan melakukannya dimana saja, di ruang tamu, di beranda rumah. Meski tidak mewajibkan anak-anaknya untuk membaca buku, namun selalu ada buku yang tersedia di rumah Agus Salim.


            5. Pergerakan Agus Salim

Setelah lulus sekolah, Agus Salim menjadi penerjemah jemaah haji konsulat Hindia Belanda di Mekah. Saat di Mekkah ia makin mempelajari Islam dan itu menjadi titik balik bagi dirinya. Dilemanya akan agama dan pikiran yang membuat dirinya hampir agnostik akhirnya hilang.

Selepas menjadi penerjemah konsulat, Agus Salim sempat direkrut menjadi mata-mata Hindia Belanda. Hingga akhirnya ia memihak pada perjuangan bangsa dan menjadi pimpinan di Serekat Islam, salah satu organisasi kebangsaan yang saat itu mempunyai massa ratusan ribu. Agus Salim sempat diasingkan oleh pemerintah Hindia Belanda ke Bangka dan Parapat bersama tokoh-tokoh lainnya.

                              
                                          Diasingkan Pemerintah Hindia Belanda
                                                                       Ist.

Perjuangannya berlanjut dengan menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, Panitia Sembilan, delegasi di Perundingan Renville, diplomat yang membawa pengakuan de jure dunia internasional atas kemerdekaan Indonesia, Menteri Muda Luar Negeri Indonesia, dan yang lainnya.

Bersama Para Tokoh
Ist.


Membahas tentang Agus Salim tentu tak cukup hanya di tiga halaman folio ini. pada tulisan di atas hanya poin-poin besarnya saja. Namun tentunya, akan ada kisah-kisah dari The Grand Old Man ini yang bisa kita cari tahu. Saya menyarikan tentang Agus Salim dari buku ini.

Terbitan Tempo. Buku yang Saya Baca.
Ist.


Namun tentunya terdapat sumber-sumber literasi tentang Agus Salim yang dapat dicari dan bahkan lebih lengkap. Selamat mencari dan selamat belajar darinya.



(Bagian 2-Tamat)

0 Comments